Selasa, 11 Nopember 08 – oleh : Abu Zahro
Mengapa terjadi konflik? Seseorang yang terlibat konflik adalah ketika ia merasa ditimpa masalah yang menyulitkan, mengganggu atau memojokkan hingga ia merasa dibuat tidak nyaman. Dari sinilah konflik itu berangkat, ya dari masalah. Pertanyaan selanjutnya, mengapa seseorang ituterkenan masalah? Masalah itu berangkat dari ketidaksukaan (tidak ridho) dan akibat buruk sangka (su’uzh-zhon).
Sebenarnya dari pernyataan tersebut, jawabannya sangat mudah untuk ditarik kesimpulannya, yaitu: agar tidak terjadi konflik, maka jangan ada masalah, agar tidak terjadi masalah maka kita belajar suka (ridho) dan berbaik sangka (husnuzh-zhon).
Sekarang mari kita bahas dulu tentang, apa itu masalah? Secara etimologi (harfiyah) masalah itu dari akar kata “sa’ala – yas’alu – su’aalan (soal)” kemudian terjadilah bentukan kata “mas’alah” (artinya: persoalan) dengan kedudukan (posisi) pada wazan (timbangan) “isim zaman dan isim makan” (kata benda yang menunjukkan waktu dan tempat). Artinya mas’alah (persoalan) itu tidak bisa terlepas dari waktu dan tempat, berarti kapanpun dan dimanapun kita berada maka kita akan terkena masalah, atau masalah itu pasti akan tetap terjadi kapanpun dan dimanapun. Oleh karena itu kita tidak bisa menghindari masalah. Kemanapun kita berlari maka di situ kita akan terkena masalah.
Asumsi keumuman yang terjadi di masyarakat adalah bahwa masalah itu adalah sesuatu yang tidak disukai, sedangkan masalah yang disukai maka itu bukan masalah. Contohnya, seorang istri yang diceraikan suaminya akan menjadi masalah jika si istri tidak suka dicerai. Tapi jika si istri memang menginginkan untuk dicerai (artinya ia memang suka untuk dicerai), maka hal itu tidak jadi masalah. Contoh lain, seorang gadis yang tidak suka dengan jilbab, maka akan menjadi masalah jika dipaksa memakai jilbab. Sedangkan bagi gadis yang suka dengan jilbab, jangankan disuruh, tanpa disuruh pun ia dengan kesadarannya akan memakai.
Di sinilah kemudian kita harus belajar. Bagaimana agar tidak terjadi konflik? Jawabnya adalah, bagaimana agar tidak terjadi masalah. Dan bagaimana agar tidak terjadi masalah? Jawabnya, bagaimana caranya kita belajar menyukai. Di sinilah letak akar masalahnya.
Islam mengajarkan kepada kita agar kita Ridho (suka) menerima apapun peristiwanya yang terjadi (sebagai ketetapan Alloh) dengan disertai berbaik sangka (husnuzh-zhon) kepada Alloh bahwa kejadian (taqdir Alloh) itu pasti ada hikmahnya (Alloh menghendaki kebaikan di balik kejadian itu). Tak mungkin Alloh menghendaki keburukan. Alloh menciptakan kejadian buruk, tapi Alloh menghendaki kebaikan dibalik kejadian buruk itu. Begitulah, Alloh menghendaki kebaikan dalam setiap kejadian apapun. Alloh menghendaki kemudahan di balik setiap kesulitan. Alloh menciptakan peluang amal, peluang ibadah, peluang pahala, peluang rahmat, ampunan dan surga-Nya di balik setiap masalah. Hanya kitanya saja yang sering tidak ridho dan berburuk sangka, hati kita sudah buruk duluan, maka akibatnya mulut kita pun akan berkata buruk dan badan kita juga akan bertindak buruk. Karena mulut dan anggota badan, hanyalah mencerminkan apa yang ada di hati belaka.
Jika kita merasa terganggu dengan tangisan anak, maka tangisan anak itu menjadi masalah buat kita, kemudian kita akan menyikapinya dengan emosional dan tindakan kasar. Tapi kalau kita berhusnuzh-zhon kepada Alloh bahwa di balik tangisan anak itu ada peluang amal, dimana Alloh sudah menyiapkan pahala jika kita mau memeluknya atau menggendongnya dengan kasih sayang dengan niat melaksanakan perintah Alloh dan berharap ridho-Nya, maka kita telah berhasil menangkap peluang itu, kita telah beribadah kepada Alloh, kita telah memanfaatkan peluang amal. Akibatnya kita akan berkata ramah dan bertindak santun serta lemah lembut disertai kesabaran dan keikhlasan.
Jika kita melihat istri kita cemberut dan kita tidak suka, karena menganggap hal itu memusingkan kita, maka cemberutnya istri jadi masalh buat kita setelah itu akan timbul konflik. Tapi jika kita mampu menangkap peluang kebaikan dan amal (berbaik sangka kepada Alloh, bahwa dibalik ciptaan Alloh yaitu istri yang cemberut itu Alloh menyiapkan pahala jika kita menyikapinya dengan benar) maka kita akan berusaha mengajak istri berkomunikasi dengan ramah dan santun serta memotivasi dengan bijak, sabar dan ikhlas. Dipeluknya istri kita, dibelai, dicium dan diberikan cerita serta nasehat yang baik dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dengan demikian kita melihat cemberutnya istri itu bukan masalah akan tetapi peluang. Artinya cemberutnya istri itu tidak menimbulkan konflik, akan tetapi membuahkan peluang kebaikan, peluang amal, peluang ibadah dan peluang pahala.
Alloh SWT berfirman:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” QS. 57:22-23
Juga firman-Nya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin (kehendak) Alloh; dan barangsiapa yang beriman (ridho dan berbaik sangka) kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Alloh Maha mengetahui segala sesuatu.” QS. 64:11
Rosululloh SAW: Alloh SWT berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Hamba-Ku menyakiti Aku, mereka mencela zaman, Aku-lah Sang Zaman, karena Aku Yang Mempergilirkan Malam dan Siang (Yang Menciptakan peristiwa demi perintiwa.)” HR. Bukhori – Muslim.
Juga sabdanya: “Berbaik sangka kepada Alloh itu termasuk ibadah yang baik.” HR. Abu Dawud.
Di samping masalah itu akibat dari tidak suka (yang berbuah tidak ikhlas) dan berburuk sangka (yang berbuah tidak sabar), ada penyebab lainnya, yaitu dalam berbuat orientasinya henya mengharapkan keuntungan duniawi ataupun syahwati, maka dampaknya jika sesuatu dianggap akan merugikan bisa membuat masalah dan konflik. Dia hanya akan senang jika sesuatu akan menguntungkan secara finansial dan material, inilah kaum materialis dan hedonis.
Untuk itulah Alloh mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan sesuatu hendaklah diniatkan untuk ibadah (yaitu semata-mata demi mentaati Alloh dan berharap imbalan atau balasan dari Alloh, yaitu pahala di sisi-Nya rahmat, ampunan dan surga-Nya). Peluang-peluang dimaksud adalah peluang amal, peluang ibadah dan peluang untuk mendapatkan balasan dari Alloh yang besar di akhirat kelak. Adapun manfaat duniawinya tak perlu dipusingkan, karena Alloh telah berjanji, barangsiapa yang beramal demi akhiratnya maka Alloh akan memberikan keuntungan dunianya dan akhiratnya sekaligus. Akan tetapi barang siapa yang beramal demi dunia dan perhiasannya, maka Alloh akan memberikan keuntungan dunianya dengan sempurna akan tetapi ia diakhirat tidak memperoleh apapun kecuali Neraka.
Alloh SWT berfirman:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” QS. 11: 15-16
Juga firman-Nya:
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya (dunia maupun akhiratnya) dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” QS. 42:20
Komentar Terakhir