Oleh: abuzahro | Agustus 7, 2008

JERITAN HATI SI MISKIN

Suatu hari datanglah ke puskesmas seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia dua bulan bersama suaminya. Rupanya mereka ingin mengobati anaknya yang demam tinggi. Ibu terlihat begitu gelisah. Ia menunggu giliran antrian. Sementara itu anaknya rewel dan terus menangis. Suaminya terlihat mendampingi dengan wajah cemas. Ibu itu sibuk membujuk dan merayu bayinya agar tidak menangis, berbagai cara ia lakukan, dengan menimang-nimang, mengayun-ayunkan dalam pelukannya, namun bayi ini tak kunjung diam, ia tetap rewel dan menangis. Ibu dan bayinya inipun menjadi perhatian pasien yang lain, hampir semua mata memandangnya. Entahlah apakah pandangan kasihan ataukah pandangan merasa terganggu dengan berisiknya suara bayi itu.

Sementara itu petugas jaga tiket antrian cuek saja. Setelah tiba gilirannya maka ibu ini segera mengambil tiket dan membayar uang recehan Rp. 3.000,- Setelah inipun ibu dan suaminya masih harus mengantri untuk menunggu panggilan bu bidan atau pak dokter. Ibu ini terus saja mondar-mandir sibuk mendiamkan anaknya yang rewel. Akhirnya ibu ini dipanggil juga.

Setelah menghadap maka segera ibu ini menyampaikannya keluhannya, “Tolong bu anak saya ini sangat panas. Tolong segera diobati.” Sejurus kemudian bu bidan memeriksa badan bayi yang demam itu. “Anak ini harus dirawat karena demam tinggi. Tapi ibu harus membayar dulu.” Seru bu bidan itu.

“Berapa bu?” jawab ibu pasien. “Dua puluh ribu rupiah.” Jawab bu bidan singkat. “Tapi kami punya asuransi pengobatan orang miskin bu…!” ibu pasien berusaha menjelaskan. “Pokoknya ibu bayar dulu, baru kami tangani.” Bu bidan itu pun mengabaikan ibu pasien ini sambil memanggil nomor urut pasien lainnya. 

Segera ibu itu menemui suaminya, “Pak kita harus segera cari uang Rp. 20.000,- kalau tidak bayar dulu anak kita tidak diobati.”

“Ya sudah kamu tunggu di sini, saya cari uang dulu ya.” Segera suaminya bergegas keluar puskesmas dan berusaha mencari uang Rp. 20.000,- Entah hendak pergi kemana ia untuk mendapatkan uang itu. Belum lama suaminya pergi, tiba-tiba anak yang menangis itu diam dalam gendongan ibunya. Ibu itu tersentak kaget. Kok tiba-tiba diam. Dilihatnya anaknya itu dengan seksama. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Segera ia memberanikan diri menerobos masuk ruang kerja dokter dan menanyakan apa yang terjadi.

Melihat ibu yang panik itu, dokter segera memeriksa si bayi yang berada dalam gendongan ibunya. Tiba-tiba dokter itu menoleh ke wajah ibu dan berkata, “bayi ini sudah meninggal.”

Bagai di sambar petir di siang bolong, ibu ini begitu terpukulnya. Ia segera berhambur keluar dan menangis  tersedu-sedu menunggu kedatangan suaminya yang sedang berusaha mencari uang  Rp. 20.000,- guna mengobati bayinya. Tak lama kemudian suami ibu itupun datang, “Bu, alhamdulillah aku sudah mendapatkan uang Rp. 20.000,- boleh pinjam sama tetangga kita.” Begitulah bapak itu berbicara dan langsung saja duduk di samping istrinya.

Namun ibu itu justru semakin keras suara tangisnya. Suaminya menjadi bingung karenanya. “Pak, anak kita sudah meninggal dunia.”

Betapa tersentaknya bapak itu. Ditatapnya dalam-dalam jabang bayi dan darah dagingnya yang begitu disayanginya. Wajahnya sudah pucat pasi. “Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.” Uang Rp. 20.000,- itupun dimasukkan kembali ke dalam saku bajunya.

Dengan langkah gontai kedua suami istri itu segera meninggalkan puskesmas itu. Suaminya dengan bergumam ia berkata, “Ya Alloh ampunilah bu bidan itu, berilah ia hidayah-Mu.” Beberapa pasang mata berkaca-kaca dan meneteskan air memandang sepasang suami istri yang sedang dilanda duka. Bu bidan yang melihat kejadian itu ikut menangis seakan merasa bersalah.

Semoga kisah ini menjadikan pelajaran bagi kita semua. Hendaknya kita menolong orang yang berada dalam kesusahan tanpa harus dahulu meributkan keuangan atau imbalan, terlebih kita tahu bahwa yang ditolong adalah orang miskin. Benar bahwa kematian adalah urusan Alloh, ia adalah taqdir-Nya. Akan tetapi jika kita sudah menolong seseorang yang berada dalam kesulitan maka kita sudah mendapatkan pahala dan kita tidak akan disalahkan oleh orang yang kita tolong, kita juga tidak disalahkan oleh Alloh SWT, bahkan kita akan mendapatkan pahala dari-Nya.

Nabi SAW bersabda: “Alloh akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu suka menolong saudaranya.”


Beri tanggapan

Your response:

Kategori