Oleh: abuzahro | November 20, 2008

BERAMAL DENGAN IKHLAS

Alloh SWT berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah (beribadah untuk) Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” QS. Al Bayyinah:5

[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Alloh) dan jauh dari kesesatan.

Juga Firman-Nya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka hanya mengabdi (beribadah) kepada-Ku saja.” QS. Ad Dzariyat:56

Perbuatan baik apapun yang benar menurut syari’at yang kita kerjakan dengan niat semata-mata karena Alloh (karena menunaikan perintah Alloh demi mentaati-Nya) demi mendapatkan ridho dan pahala (balasan) dari-Nya maka perbuatan itu disebut ‘ibadah. Dan untuk itu akan mendapatkan pahala di sisi Alloh berupa ampunan, rahmat dan Surga-Nya.

Sebaliknya perbuatan seseorang yang dikerjakan dengan berharap mendapatkan keuntungan dan manfaat duniawi (material, finansial, harta, pangkat, karier, pujian, popularitas, dsb) maka perbuatan itu bukanlah ibadah. Maka orang seperti ini akan memperoleh balasan dari Alloh hanya di dunia saja dan di akhirat nanti dia tidak mendapatkan apapun selain neraka.

Alloh SWT berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan dari pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan[714].” QS. Hud:15-16

[714] Maksudnya: apa yang mereka usahakan di dunia itu tidak ada pahalanya di akhirat.

Juga Firman-Nya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” QS. Al Isro:18

Orang yang beramal dengan benar semata-mata demi melaksanakan perintah Alloh dan berharap balasan dari Alloh, maka disamping ia akan mendapatkan balasan di akhirat nanti berupa Surga-Nya, juga ia akan mendapatkan balasan di dunianya. Baik berupa materi (gaji, uang, barang, dll), maupun immateri (rahmat, berkah, hidayah, ketenangan batin, kebahagiaan, kedamaian, dll).

Alloh SWT berfirman: Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu (di dunia) baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” As Syuro:20

Sebaliknya bagi mereka yang beramal dengan niat mencari manfaat duniawi, maka dia hanya mendapatkan manfaat material semata seperti, uang, jabatan, popularitas, dll. Selanjutnya disamping di akhiratnya ia akan merugi dengan siksaan nerakanya, di dunianyapun mereka akan mendapatkan siksaan batin, seperti kegelisahan, kekecewaan, ketakutan, kecemasan, dll, yang secara umum disebut sebagai penderitaan batin.

Betapa tidak, orang yang ikhlas dalam beramal yang semata-mata hanya berharap ridho dan pahala dari Alloh, dan tidak berharap balasan dan pujian dari manusia, maka ia tidak sakit hati dan tidak bersedih ketika dicela dan dihina, apalagi hanya sekedar dikritik. Sebab hatinya kosong dari harapan pujian. Ia tetap tenang karena hatinya penuh dengan harapan ridho dan pahala dari Alloh semata. Ia sangat yakin bahwa sekalipun orang menghina atau membencinya akan tetapi Alloh meridhoi dan mencintainya. Begitupun ketika usahanya di dunia gagal (tidak mendapatkan keuntungan material) ia tidak bersedih, karena ia sudah berusaha mengerjakan sesuai dengan aturan Alloh, ia sangat yakin bahwa Alloh tidak akan menyia-nyiakan amalnya yaitu telah menyediakan pahala di sisi-Nya dengan pahala yang JAUH lebih baik dari apapun yang ada di dunia ini.

Lain halnya orang yang beramal karena ingin balasan duniawi serta pujian, maka ketika usahanya gagal, maka ia akan stress, kecewa dan sangat bersedih. Begitupun ketika hasil kerjanya berbuah kritikan, apalagi cacian dan hinaan, maka ia akan sangat sedih, kecewa dan menderita.

Oleh: abuzahro | November 20, 2008

MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH SWT

Rosululloh S.A.W. telah bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Alloh…”

Dalam kitab Daqo’iqul Akhbar diterangkan bahwa akan didatangkan seorang hamba pada hari Qiamat nanti, dan sangat beratlah timbangan kejahatannya, maka diperintahkan kepada malaikat untuk melemparkannya ke dalam neraka.

Maka salah satu daripada rambut (bulu) mata orang tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, Rosul Engkau Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, barang siapa yang menangis karena takut kepada Alloh S.W.T, maka Alloh mengharamkan matanya masuk ke neraka dan sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepada-Mu.”

Akhirnya Alloh S.W.T. mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis karena takut kepada Alloh S.W.T. Malaikat Jibril A.S. mengumumkan, “Telah selamat Fulan bin Fulan sebab sehelai rambut.”

Dalam kitab lain, Bidayatul-Hidayah, diceritakan bahwa pada hari Qiamat nanti, akan didatangkan neraka jahanam dengan mengeluarkan suaranya, suara nyala apinya sangat mengerikan, semua umat menjadi berlutut karena ketakutan menghadapinya. Alloh S.W.T. berfirman, “Kamu lihat (pada hari itu) setiap umat berlutut (yakni merangkak pada lututnya). Tiap-tiap umat diseru kepada buku amalannya. (Dikatakan kepadanya) Pada hari ini kamu dibalasi menurut apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (Surah Al-Jatsiyah : 28)

Saat mereka menghampiri neraka, mereka mendengar geraman suara nyala api neraka. Diterangkan dalam kitab tersebut bahwa suara nyala api neraka itu dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan. Pada waktu itu, akan berkata setiap orang hingga para Nabi dengan ucapan, “Diriku, diriku (selamatkanlah diriku Ya Alloh),” kecuali hanya seorang Nabi saja yang berkata, “Umatku, umatku.” Beliau ialah junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W.

Pada masa itu keluarlah gumpalan-gumpalan api neraka jahim seperti gunung-gunung, umat Nabi Muhammad S.A.W. berusaha menghalanginya dengan berkata, “Wahai api, demi hak orang-orang yang sholat, demi hak orang-orang yang ahli sedekah, demi hak orang-orang yang khusyu’, demi hak orang-orang yang berpuasa, kembalilah (mundurlah) engkau !”

Walaupun sudah diseru demikian, api neraka itu tetap tidak mau kembali, lalu Malaikat Jibril berkata, “Sungguh api neraka itu menuju kepada umat Muhammad S.A.W.”

Kemudian Jibril A.S. membawa semangkuk air dan berkata, “Wahai Rosululloh, ambillah air ini dan siramkanlah kepadanya.” Lalu Rosululloh S.A.W. meraihnya, setelah itu Baginda S.A.W. menyiramkannya pada api itu, maka padamlah api itu.

Setelah itu Rosululloh S.A.W pun bertanya kepada Jibril A.S. “Wahai Jibril, air apakah itu?” Maka Jibril A.S. berkata, “Itu adalah air mata orang-orang yang durhaka (ahli ma’siyat) di kalangan umatmu tetapi mereka menangis karena takut kepada Alloh S.W.T. Aku diperintahkan untuk memberikannya kepadamu agar engkau menyiramkan pada api neraka itu.” Maka padamlah api itu dengan izin Alloh S.W.T.

Maka Rosululloh S.A.W. bersabda, ” Ya Alloh anugerahkanlah kami dua buah mata yang bisa menangis karena takut kepada-Mu…”

Yayasan Al Istiqomah

Akte Notaris Muhamad Soeloeh, SH, No.19 Tgl 28 Feb 2003

Bank Muamalat KCP Fatmawati, Rek No 304.00148.15

BCA Cabang Taman Kota, Rek Nomor: 756.001515.6

=========================================

Kantor pusat:

Kp. Pangkalan, Mandor Husen, RT.008/010, No.189, Kel. Semanan, Kalideres, JAK-BAR 11850.

Telp. 02198276351, Fax: 0215456723,.

Kantor Cabang:

Jl. Cempaka Raya, RT 003/011, No. 8, Kel. Rawa Buaya, Kec. Cengkareng, Jak-Bar 11740,

Phone: 02194758868.

E-mail: redaksi@imeidacyber.com

Web: www.imediacyber.com dan www.abuzahro.wordpress.com

LATAR BELAKANG YAYASAN

Yayasan Sosial, Da’wah dan Pendidikan Al Istiqomah, berdiri tanggal 28 Februari 2003. Yayasan Al Istiqomah dibentuk dari Majlis Ta’lim Gabungan Al Istiqomah yang diasuh oleh Bpk. Ust. Teguh Wibowo, S.Pd.I. Yayasan Al Istiqomah berusaha terus mengembangkan diri dengan berbagai program baru disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi yang bernuansa digital.

I. ASET YAYASAN

Yayasan Al Istiqomah saat ini sudah memiliki tanah wakaf seluas 12.200 M² bertempat di 3 lokasi yaitu:

1. di Jl. Dumeling, RT.003/014, No.5, Desa Tangkil, Kel. Baranangsiang, Kec. Bogor Timur, Kab. Bogor, Jawa Barat (seluas 500 M², wakaf dari almarhumah ibu Hj. Fatimah)

2. di Jl. NK, RT. 008/02, Kp. Situpotong, Kel. Sukaraja, Kec. Malingping, Lebak. Banten (seluas 11.000 M², wakaf dari ibu Nursiah)

3. di RT.002/012, Ds. Bojong Gede, Kec. Bojong Gede, Kab. Bogor, Jawa Barat 16320 (seluas 700 M², wakaf dari Bpk. H. Ngadenan)

Yayasan juga memiliki dua computer dan satu laptop, satu proyektor, satu sound portable, satu megaphone, dan buku-buku perpustakaan.

II. KEGIATAN YAYASAN

Yayasan saat ini menyelenggarakan:

Pengajian umum Mingguan dan Bulanan, Santunan Anak Yatim Non Panti, Training Leadership (Training of Personality) seri: “Membangun Pribadi Unggul” dengan didukung perangkat Teknologi Digital, Layar Lebar, Film-film dan Lagu-lagu Islami, serta permainan dan simulasi yang mendidik.

III. RENCANA PEMBANGUNAN MASJID, PANTI ASUHAN ANAK YATIM, SEKOLAH DAN PESANTREN GRATIS

Yayasan berencana akan membangun Tempat Ibadah (Musholla dan Masjid), Pendidikan (Sekolah Gratis), Pondok Pesantren Gratis, Gedung Majlis Ta’lim, Gedung Training, dan Gedung Serbaguna. Juga membangun lembaga keuangan dan badan usaha untuk membiayai operasional yayasan tersebut, seperti koperasi BMT, dll.

IV. PERAN SERTA MASYARAKAT DAN KAUM MUSLIMIN

Untuk merealisasikan rencana tersebut, tentunya membutuhkan dana yang besar, untuk itulah Yayasan Al Istiqomah memberikan kesempatan kepada masyarakat, kaum muslimin serta para donatur (dermawan) yang simpati dengan kegiatan sosial kemanusiaan, pengadaan sarana ibadah dan pendidikan untuk menyalurkan bantuannya baik berupa zakat, infaq, shodaqoh, wakaf, maupun hibah.

Zakat, infaq dan shodaqoh tersebut dapat ditransfer ke

Bank Muamalat Cabang Fatmawati, Rek Nomor: 304.00148.15

atau ke Bank BCA Cabang Taman Kota, Rek Nomor: 756.001515.6,

atau bisa langsung diserahkan kepada Pengurus Yayasan Al Istiqomah.

Yayasan juga menyelenggarakan Layanan Jemput Zakat, Infaq dan Shodaqoh bagi para Muzakki yang tidak sempat mentransfer atau mengantar langsung ke sekretariat yayasan Al Istiqomah.

Caranya mudah silakan SMS ke 081316004549 atau 08128065109 atau telp ke 02198276351 / 02194758868. Segera setelah menerima SMS atau telp, petugas dari yayasan Al Istiqomah akan meluncur untuk menjemput Zakat, Infaq dan Shodaqoh dari para Muzakki.

Yayasan juga menerima bantuan tanpa syarat yang mengikat dari lembaga seperti dari Pemerintah, BUMN, LSM, Perusahaan Swasta, serta bantuan luar negeri dan berbagai organisasi lainnya.

Tertarik untuk berinfaq atau mengikuti kegiatan yang diselenggarakan yayasan Al Istiqomah, silakan hubungi sekretariat.

V. SUSUNAN PENGURUS YAYASAN

Adapun Sususan Pengurus Yayasan Sosial Da’wah dan Pendidikan Al Istiqomah:

Pendiri : Teguh Wibowo, S.Pdi., H. Ngadenan, Sunarya, Achmad Riva’i Hidayat

Penasehat : H. Eman Firmansyah, H. Uci Sanusi

Pengawas : Drs. HM. Sholahi, MM.

Pengurus :

Ketua : Teguh Wibowo, S.Pdi.

Wakil Ketua : Sholihin SA.

Sekretaris : Arif Hidayat, ST.

Wakil Sekretaris : Lia Anisyah, SE.

Bendahara : Achmad Riva’i Hidayat

Wakil Bendahara : Sarkeni, ST.

Seksi-seksi :

Manajemen Keuangan : Lia Anisyah, SE.

Wakil : Iskandar, SE.

Kabid Litbang : Drs. Gunawan Effendi, PSJ.

Kabid Pendidikan : Junaedi, S.Pd.

Wakil : Imam Sujono, S.Sospol.

Kabid Pembangunan : Ir. Suprayogi

Wakil : Sarkeni, ST.

Kabid Hukum : Sabenih, SH.

Wakil : Yustina Indriani, SH.

Kabid Usaha : Zuli Arianto

Wakil : Mustofa

Kabid Jurnalistik dan Dok : Sunarya

Wakil : Syarifudin

Sie Humas dan Pengadaan Barang : M. Idris, Djaya

Susunan pengurus ini akan diganti oleh musyawarah / rapat Dewan Penasehat, Dewan Pendiri, Dewan Pengawas, dan Dewan Pengurus sesuai periode yang ditetapkan.

VI. DONATUR TETAP / ANGGOTA I.I.C.

Bagi yang berminat untuk menjadi Donatur Tetap kami menerbitkan kartu I.I.C. (Istiqomah Infaq Club) bentuk seperti KTP.

Caranya silakan minta dan isi formulir IIC yang disediakan oleh panitia / pengurus. Setelah mengembalikan formulir kepada petugas, insya Alloh paling lambat setelah seminggu, Kartu IIC yang telah dilaminating akan diterima oleh Donatur / Pemilik Kartu.

Pada kartu ini di bagian depan tercantum Alamat dan No Telp Yayasan, No. Anggota, Nama Pemilik Kartu, Alamat Pemilik Kartu, dan No. Telp. Pemilik Kartu.

Di bagian belakang kartu tercantum himbauan / ajakan untuk menginfaqkan sebagian hartanya (seikhlasnya) setiap bulan melalui transfer ke rek yayasan atau langsung diserahkan ke sekretariat, atau minta dijemput petugas dari yayasan, guna pembangunan dan operasional sarana ibadah, pendidikan gratis dan panti asuhan anak yatim.

VII. FASILITAS ANGGOTA I.I.C.

Anggota IIC akan mendapatkan informasi dan atau undangan dari kegiatan yang diselenggarakan yayasan atau pondok pesantren khususnya event yang penting atau besar, baik berupa selebaran atau SMS. Untuk itu jika Anggota IIC mengganti No HP atau berpindah alamat, harap segera memberikan informasi kepada yayasan / pondok pesantren agar data di computer bisa di perbaharui.

VIII. AKSES INFORMASI DAN UNDANGAN

Segala Informasi Kegiatan, Keuangan dan Undangan Pengajian untuk umum serta kegiatan belajar mengajar dapat diakses melalui situs kami di

Web: www.imediacyber.com

Atau di :

www.abuzahro.wordpress.com

Kaum Muslimin juga bisa mengirimkan saran-sarannya ke alamat E-mail kami di

E-mail: redaksi@imediacyber.com

IX. KHOTIMAH

Kami sangat menyadari sepenuh hati, bahwa sebagai makhluk yang lemah, kami tidak akan pernah mampu mewujudkan rencana kami yang besar ini, kecuali jika Alloh menolong kami dan ummat Islam / khususnya kaum aghniya / donatur secara bersama-sama dan bergotong royong bersama kami berjuang untuk menegakkan dan mensyi’arkan agama Islam yang mulia ini.

Mari kita perhatikan firman Alloh SWT dan hadits Nabi SAW berikut ini:

“Jika kamu menolong (agama) Alloh maka Alloh akan menolongmu…” QS. 47:7

“Perumpamaan harta yang diinfaqkan di jalan Alloh itu seperti sebutir biji yang tumbuh menjadi 7 tangkai, setiap tangkai berbuah 100 biji, dan Alloh melipat gandakan (lebih dari itu) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh itu Maha Luas Karunianya lagi Maha Mengetahui.” QS. 2:261

“Barangsiapa tidak mempedulikan (urusan) kaum Muslimin, maka ia bukan golongan mereka (Muslimin) .” HR. Abu Dawud

“Alloh tetap akan menolong hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.” HR. Ahmad.

“Barangsiapa membangun masjid, maka Alloh akan membangun istana untuknya di Surga.” HR. Ibnu Majah.

“Saya dan pemelihara (penyantun) anak yatim ada di dalam Surga seperti 2 jari ini (Rosululloh SAW menunjukkan 2 jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah, artinya kedudukan Nabi SAW dan penyantun anak yatim berada di dalam Surga berdekatan, tiada batas).” HR. Al Bukhori

Dalam satu riwayat disebutkan: “Shodaqoh/infaq itu dapat menolak bencana (musibah), dapat merubah taqdir, mendatangkan berkah, mendatangkan pertolongan Alloh, dapat membersihkan harta dan jiwa, dapat mengundang ampunan Alloh, do’a jadi terkabul, dan menjadi tameng dari api neraka.”

Semoga Alloh menjadikan kita, orang-orang yang dermawan dan peduli kepada Islam dan kaum Muslimin (yang papa), sehingga kita diakui sebagai hamba Alloh dan Ummat Muhammad SAW… aamiin.

Oleh: abuzahro | November 11, 2008

Istiqomah Infaq Club

Selasa, 11 Nopember 08 – oleh : Admin

Bagi yang berminat untuk menjadi Donatur Tetap kami menerbitkan kartu IIC (Istiqomah Infaq Club) bentuk seperti KTP.

Caranya silakan minta dan isi formulir IIC yang disediakan oleh panitia/pengurus. Setelah mengembalikan formulir kepada petugas, insya Alloh paling lambat setelah seminggu, Kartu IIC yang telah dilaminating akan diterima oleh Donatur / Pemilik Kartu.

Pada kartu ini di bagian depan tercantum Alamat dan No Telpon Yayasan, Nomor Anggota, Nama Pemilik Kartu, Alamat Pemilik Kartu, dan Nomor Telpon Pemilik Kartu.

Di bagian belakang kartu tercantum himbauan/ajakan untuk menginfaqkan sebagian hartanya (seikhlasnya) setiap bulan melalui transfer ke rek yayasan atau langsung diserahkan ke sekretariat, atau minta dijemput petugas dari yayasan, guna pembangunan dan operasional sarana ibadah, pendidikan gratis dan panti asuhan anak yatim.

FASILITAS ANGGOTA IIC

Anggota IIC akan mendapatkan informasi dan atau undangan dari kegiatan yang diselenggarakan yayasan atau pondok pesantren khususnya event yang penting atau besar, baik berupa selebaran atau SMS. Untuk itu jika Anggota IIC mengganti Nomor Handphone atau berpindah alamat, harap segera memberikan informasi kepada yayasan/pondok pesantren agar data di komputer bisa di perbaharui.

Tertarik? Silakan hubungi HP: 08128065109

Oleh: abuzahro | November 11, 2008

MANAJEMEN KONFLIK

Selasa, 11 Nopember 08 – oleh : Abu Zahro

Mengapa terjadi konflik? Seseorang yang terlibat konflik adalah ketika ia merasa ditimpa masalah yang menyulitkan, mengganggu atau memojokkan hingga ia merasa dibuat tidak nyaman. Dari sinilah konflik itu berangkat, ya dari masalah. Pertanyaan selanjutnya, mengapa seseorang ituterkenan masalah? Masalah itu berangkat dari ketidaksukaan (tidak ridho) dan akibat buruk sangka (su’uzh-zhon).

Sebenarnya dari pernyataan tersebut, jawabannya sangat mudah untuk ditarik kesimpulannya, yaitu: agar tidak terjadi konflik, maka jangan ada masalah, agar tidak terjadi masalah maka kita belajar suka (ridho) dan berbaik sangka (husnuzh-zhon).

Sekarang mari kita bahas dulu tentang, apa itu masalah? Secara etimologi (harfiyah) masalah itu dari akar kata “sa’ala – yas’alu – su’aalan (soal)” kemudian terjadilah bentukan kata “mas’alah” (artinya: persoalan) dengan kedudukan (posisi) pada wazan (timbangan) “isim zaman dan isim makan” (kata benda yang menunjukkan waktu dan tempat). Artinya mas’alah (persoalan) itu tidak bisa terlepas dari waktu dan tempat, berarti kapanpun dan dimanapun kita berada maka kita akan terkena masalah, atau masalah itu pasti akan tetap terjadi kapanpun dan dimanapun. Oleh karena itu kita tidak bisa menghindari masalah. Kemanapun kita berlari maka di situ kita akan terkena masalah.

Asumsi keumuman yang terjadi di masyarakat adalah bahwa masalah itu adalah sesuatu yang tidak disukai, sedangkan masalah yang disukai maka itu bukan masalah. Contohnya, seorang istri yang diceraikan suaminya akan menjadi masalah jika si istri tidak suka dicerai. Tapi jika si istri memang menginginkan untuk dicerai (artinya ia memang suka untuk dicerai), maka hal itu tidak jadi masalah. Contoh lain, seorang gadis yang tidak suka dengan jilbab, maka akan menjadi masalah jika dipaksa memakai jilbab. Sedangkan bagi gadis yang suka dengan jilbab, jangankan disuruh, tanpa disuruh pun ia dengan kesadarannya akan memakai.

Di sinilah kemudian kita harus belajar. Bagaimana agar tidak terjadi konflik? Jawabnya adalah, bagaimana agar tidak terjadi masalah. Dan bagaimana agar tidak terjadi masalah? Jawabnya, bagaimana caranya kita belajar menyukai. Di sinilah letak akar masalahnya.

Islam mengajarkan kepada kita agar kita Ridho (suka) menerima apapun peristiwanya yang terjadi (sebagai ketetapan Alloh) dengan disertai berbaik sangka (husnuzh-zhon) kepada Alloh bahwa kejadian (taqdir Alloh) itu pasti ada hikmahnya (Alloh menghendaki kebaikan di balik kejadian itu). Tak mungkin Alloh menghendaki keburukan. Alloh menciptakan kejadian buruk, tapi Alloh menghendaki kebaikan dibalik kejadian buruk itu. Begitulah, Alloh menghendaki kebaikan dalam setiap kejadian apapun. Alloh menghendaki kemudahan di balik setiap kesulitan. Alloh menciptakan peluang amal, peluang ibadah, peluang pahala, peluang rahmat, ampunan dan surga-Nya di balik setiap masalah. Hanya kitanya saja yang sering tidak ridho dan berburuk sangka, hati kita sudah buruk duluan, maka akibatnya mulut kita pun akan berkata buruk dan badan kita juga akan bertindak buruk. Karena mulut dan anggota badan, hanyalah mencerminkan apa yang ada di hati belaka.

Jika kita merasa terganggu dengan tangisan anak, maka tangisan anak itu menjadi masalah buat kita, kemudian kita akan menyikapinya dengan emosional dan tindakan kasar. Tapi kalau kita berhusnuzh-zhon kepada Alloh bahwa di balik tangisan anak itu ada peluang amal, dimana Alloh sudah menyiapkan pahala jika kita mau memeluknya atau menggendongnya dengan kasih sayang dengan niat melaksanakan perintah Alloh dan berharap ridho-Nya, maka kita telah berhasil menangkap peluang itu, kita telah beribadah kepada Alloh, kita telah memanfaatkan peluang amal. Akibatnya kita akan berkata ramah dan bertindak santun serta lemah lembut disertai kesabaran dan keikhlasan.

Jika kita melihat istri kita cemberut dan kita tidak suka, karena menganggap hal itu memusingkan kita, maka cemberutnya istri jadi masalh buat kita setelah itu akan timbul konflik. Tapi jika kita mampu menangkap peluang kebaikan dan amal (berbaik sangka kepada Alloh, bahwa dibalik ciptaan Alloh yaitu istri yang cemberut itu Alloh menyiapkan pahala jika kita menyikapinya dengan benar) maka kita akan berusaha mengajak istri berkomunikasi dengan ramah dan santun serta memotivasi dengan bijak, sabar dan ikhlas. Dipeluknya istri kita, dibelai, dicium dan diberikan cerita serta nasehat yang baik dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dengan demikian kita melihat cemberutnya istri itu bukan masalah akan tetapi peluang. Artinya cemberutnya istri itu tidak menimbulkan konflik, akan tetapi membuahkan peluang kebaikan, peluang amal, peluang ibadah dan peluang pahala.

Alloh SWT berfirman:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” QS. 57:22-23

Juga firman-Nya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin (kehendak) Alloh; dan barangsiapa yang beriman (ridho dan berbaik sangka) kepada Alloh niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Alloh Maha mengetahui segala sesuatu.” QS. 64:11

Rosululloh SAW: Alloh SWT berfirman dalam Hadits Qudsi:
“Hamba-Ku menyakiti Aku, mereka mencela zaman, Aku-lah Sang Zaman, karena Aku Yang Mempergilirkan Malam dan Siang (Yang Menciptakan peristiwa demi perintiwa.)” HR. Bukhori – Muslim.

Juga sabdanya: “Berbaik sangka kepada Alloh itu termasuk ibadah yang baik.” HR. Abu Dawud.

Di samping masalah itu akibat dari tidak suka (yang berbuah tidak ikhlas) dan berburuk sangka (yang berbuah tidak sabar), ada penyebab lainnya, yaitu dalam berbuat orientasinya henya mengharapkan keuntungan duniawi ataupun syahwati, maka dampaknya jika sesuatu dianggap akan merugikan bisa membuat masalah dan konflik. Dia hanya akan senang jika sesuatu akan menguntungkan secara finansial dan material, inilah kaum materialis dan hedonis.

Untuk itulah Alloh mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan sesuatu hendaklah diniatkan untuk ibadah (yaitu semata-mata demi mentaati Alloh dan berharap imbalan atau balasan dari Alloh, yaitu pahala di sisi-Nya rahmat, ampunan dan surga-Nya). Peluang-peluang dimaksud adalah peluang amal, peluang ibadah dan peluang untuk mendapatkan balasan dari Alloh yang besar di akhirat kelak. Adapun manfaat duniawinya tak perlu dipusingkan, karena Alloh telah berjanji, barangsiapa yang beramal demi akhiratnya maka Alloh akan memberikan keuntungan dunianya dan akhiratnya sekaligus. Akan tetapi barang siapa yang beramal demi dunia dan perhiasannya, maka Alloh akan memberikan keuntungan dunianya dengan sempurna akan tetapi ia diakhirat tidak memperoleh apapun kecuali Neraka.

Alloh SWT berfirman:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” QS. 11: 15-16

Juga firman-Nya:
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya (dunia maupun akhiratnya) dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” QS. 42:20

Oleh: abuzahro | Agustus 20, 2008

ATAS NAMA CINTA

Seorang ayah atau suami demi cintanya kepada keluarga, sering kali memberikan barang yang disukai oleh keluarganya. Bisa juga pemberian itu karena sebagai bentuk hadiah di hari ulang tahunnya atau sebagai hadiah atas prestasinya. Atau mungkin karena memberi karena permintaan anaknya hanya sekedar demi agar tidak menangis atau tidak “ngambek.”

Namun seringkali pula seorang ayah atau seorang suami lupa bahwa pemberiannya itu justru akan mencelakakan atau menjerumuskan keluarganya. Betapa tidak barang yang diberikan kepada keluarganya telah membuat mereka semakin jauh melupakan Alloh, membuat keluarganya semakin mencintai harta benda dan tidak lagi ingat Alloh dan melalaikan sholat, juga melupakan Al Qur’an.

Akhirnya keluarganya terperosok ke dalam Neraka yang siksaan di dalamnya amat dahsyat. Para orang tua melupakan untuk mendidik anak-anaknya dengan mempelajari Al Qur’an secara sungguh-sungguh, demikian pula pendidikan keimanan (tauhid), sholat, dan akhlaq mulia. Bukankah di akhirat nanti Alloh akan menanyakan kepada seluruh hamba-Nya perihal tauhid, sholat atau ibadah dan akhlaq mulia? Apabila hamba-Nya lulus yaitu mentauhidkan Alloh dan bebas dari kesyirikan, rajin mendirikan sholat dan berakhlaq mulia, maka mereka akan dimasukkan ke dalam Surga-Nya yang penuh dengan segala kenikmatan.

Begitu pula dengan para pemimpin bangsa dan negara, mereka hanya memikirkan bagaimana caranya membangun negeri dengan pembangunan fisik semata. Mereka membangun gedung-gedung tinggi pencakar langit, membangun jalan-jalan yang bagus, dan menyediakan segala sarana untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya secara fisik semata. Mereka lupa mendidik dan membangun rakyatnya agar mereka menjadi orang-orang beriman dan bertaqwa. Mereka lupa membangun segala sarana yang dapat membangun mental spiritual dan memerintahkan rakyatnya agar belajar agama dengan sungguh-sungguh serta memasukkan pelajaran agama yang memadai ke dalam kurikulum pendidikan nasional.

Mereka juga tidak membuat peraturan dan undang-undang yang memerintahkan rakyatnya untuk mempelajari Qur’an dan Sunnah Rosul-Nya serta memerintahkan ibadah kepada rakyatnya serta memberinya sangsi dan hukuman kepada rakyatnya yang membangkang atas perintahnya dan pelanggaran undang-undangnya ini. Semua itu katanya atas nama cinta.

Ingatlah sabda Nabi SAW: Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap orang-orang yang dipimpinnya…” HR. Bukhori - Muslim.

Ingat firman Alloh SWT:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” QS. 7:96

Dunia adalah tempat untuk beribadah kepada Alloh SWT. Dunia adalah kesenangan sementara dan sering menipu. Sedangkan akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya, jika kita mengetahui. Alloh SWT berfirman:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” QS. 6:32

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari qiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. 3:185

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. 29:64

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” QS. 51:56

Sungguh surga itu tempat segala kenikmatan yang tiada bandingnya yang disiapkan Alloh bagi orang-orang yang bertaqwa yaitu mereka yang mengabdi kepada Alloh SWT dan menjauhi perbuatan syirik. Di dalamnya ada sungai susu, sungai madu, sungai arak dan sungai air jernih. di surga disediakan buah-buahan yang segar, manis dan wangi. Istananya berdinding emas. Pakaiannya terbuat dari sutera bertatahkan intan berlian. Di surga juga disediakan bidadari yang cantik, wangi dan tetap perawan untuk selamanya. Dan segala kenikmatan lainnya.

Alloh SWt berfirman:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” QS. 3:133

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal sholeh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizqi buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya (kenikmatan di syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baik jasmani maupun rohani).” QS. 2:25

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah (surga) yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khomar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Robb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam (neraka) Jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” QS. 47:15

Sedangkan Neraka itu berisi api dan siksaan yang mengerikan yang disediakan bagi orang-orang musyrik yang mencintai dunia melebihi dari cintanya kepada Alloh. Mereka mengabdi kepada benda tetapi tidak mengabdi kepada Alloh. Demi meraih suatu benda mereka rela berbuat apapun. Tapi perintah Alloh mereka tinggalkan dengan begitu entengnya. Maka kelak mereka akan meyesal untuk selamanya.

Alloh SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain (baru), supaya mereka merasakan azab (yang pedih). Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. 4:56

Alloh berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian (para pengikut) di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu (para pemimpin): “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Alloh berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui”. QS. 7:38

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” QS. 7:179

Oleh: abuzahro | Agustus 12, 2008

HUT RI

12 Agustus 2008, Abu Zahro

Wahai saudaraku sebangsa setanah air, sebentar lagi kita akan memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Hampir seluruh lapisan bangsa ini meramaikan hari tersebut dengan berbagai kegiatan bersenang-senang. Berbagai lomba-pun digelar dari tingkat RT sampai tingkat Nasional. Di antara mereka ada yang mengadakan acara tasyakuran dalam arti positif. Ada pula yang menyelenggarakan perlombaan yang tidak terlalu mengarah kepada perbuatan negatif, namun membangun kerukunan dan kebersamaan baik sesama warga maupun keluarga. Namun tidak sedikit pula kepanitiaan Agustusan ini yang menggelar acara, kegiatan, perlombaan, sampai pesta kemaksiyatan yang mengundang Murka Alloh.

Ada yang menyelenggarakan acara Tujuh Belasan Agustus dengan bersujud syukur, ceramah agama untuk mengenang jasa para pahlawan serta mengingatkan segala nikmat Alloh, santunan anak yatim, sholaturrohim dan makan bersama warga. Ada yang bersenang-senang dengan lomba memasak, lomba gerak jalan, lomba baca puisi, lomba berpidato, lomba mengarang, lomba menggambar, kemudian ditutup dengan sambutan panitia dan tokoh masyarakat serta pembagian hadiah.

Namun sungguh sangat disayangkan ada berapa banyak di antara warga negara komponen bangsa ini yang menyelenggarakan acara Tujuh Belasan dengan kemaksiyatan seperti lomba joget, lomba panjat pohon pinang, selanjutnya ditutup dengan acara puncak dengan layar tancap atau panggung dangdut dengan mempertontonkan aurat serta goyangan yang dapat membuat penontonnya terangsang. Belum lagi ada yang berjoget hingga lupa diri bahkan tidak sedikit ada yang minum minuman keras atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Saudaraku sebangsa setanah air, apakah negeri yang telah dianugerahi nikmat besar yaitu dimerdekakan oleh Alloh swt akan kita isi dengan kemaksiyatan yang justru akan mengundang Muska dan Adzab Alloh? Ataukah akan isi dengan mensyukuri nikmat-Nya itu dengan segala amal sholeh dan ketaan kepada-Nya yang mengundang Rahmat dan Berkah-Nya? Semua terpulang kepada kita.

Renungkan firman Alloh swt berikut ini:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa (mereka giat beramal sholeh, mentaati Aloh dan menjauhi maksiyat), pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu (dengan melakukan berbagai maksiyat dan pelanggaran agama), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. QS. 7:96

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur (menggunakan nikmat Alloh untuk beribadah kepada-Nya), pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku, menggunakan nikmat Alloh untuk maksiyat kepada-Nya), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. QS. 14:7

Ada pertanyaan menggelitik di teliga kita, “Apakah kita tidak boleh bersenang-senang barang setahun sekali?” Maka jawabnya adalah pertanyaan balik, “Haruskah bersenang-senang itu dengan cara bermaksiyat? Tidak adakah cara bersenang-senang yang mengundang rahmat dan berkah?”

Saudaraku sebangsa setanah air. Alloh menciptakan segalanya selalu berpasangan, ada siang ada malam, ada kanan ada kiri, begitulah ada halal ada pula yang haram. Begitupun dengan bersenang-senang ada senang-senang yang halal ada pula senang-senang yang haram. Kalau tidak tahu, bertanyalah kepada orang yang tahu (Ulama), senang-senang apakah yang halal?

Alloh swt berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (Ulama), jika kamu tidak mengetahui.” QS. 16:43

Apakah tidak senang dengan lomba baca puisi, lomba gerak jalan, lomba masak memasak, lomba berpidato, lomba mengarang, dll yang semuanya dikemas dengan cara yang Islami? Kemudian setelah itu ditutup dengan acara puncak santunan anak yatim, pembagian hadiah dan ceramah atau nasehat keagamaan?

Wahai saudaraku sebangsa setanah air dan seagama, kami yakin anda tahu sendiri jawabannya…!!!

Oleh: abuzahro | Agustus 7, 2008

JERITAN HATI SI MISKIN

Suatu hari datanglah ke puskesmas seorang ibu yang menggendong anaknya yang berusia dua bulan bersama suaminya. Rupanya mereka ingin mengobati anaknya yang demam tinggi. Ibu terlihat begitu gelisah. Ia menunggu giliran antrian. Sementara itu anaknya rewel dan terus menangis. Suaminya terlihat mendampingi dengan wajah cemas. Ibu itu sibuk membujuk dan merayu bayinya agar tidak menangis, berbagai cara ia lakukan, dengan menimang-nimang, mengayun-ayunkan dalam pelukannya, namun bayi ini tak kunjung diam, ia tetap rewel dan menangis. Ibu dan bayinya inipun menjadi perhatian pasien yang lain, hampir semua mata memandangnya. Entahlah apakah pandangan kasihan ataukah pandangan merasa terganggu dengan berisiknya suara bayi itu.

Sementara itu petugas jaga tiket antrian cuek saja. Setelah tiba gilirannya maka ibu ini segera mengambil tiket dan membayar uang recehan Rp. 3.000,- Setelah inipun ibu dan suaminya masih harus mengantri untuk menunggu panggilan bu bidan atau pak dokter. Ibu ini terus saja mondar-mandir sibuk mendiamkan anaknya yang rewel. Akhirnya ibu ini dipanggil juga.

Setelah menghadap maka segera ibu ini menyampaikannya keluhannya, “Tolong bu anak saya ini sangat panas. Tolong segera diobati.” Sejurus kemudian bu bidan memeriksa badan bayi yang demam itu. “Anak ini harus dirawat karena demam tinggi. Tapi ibu harus membayar dulu.” Seru bu bidan itu.

“Berapa bu?” jawab ibu pasien. “Dua puluh ribu rupiah.” Jawab bu bidan singkat. “Tapi kami punya asuransi pengobatan orang miskin bu…!” ibu pasien berusaha menjelaskan. “Pokoknya ibu bayar dulu, baru kami tangani.” Bu bidan itu pun mengabaikan ibu pasien ini sambil memanggil nomor urut pasien lainnya. 

Segera ibu itu menemui suaminya, “Pak kita harus segera cari uang Rp. 20.000,- kalau tidak bayar dulu anak kita tidak diobati.”

“Ya sudah kamu tunggu di sini, saya cari uang dulu ya.” Segera suaminya bergegas keluar puskesmas dan berusaha mencari uang Rp. 20.000,- Entah hendak pergi kemana ia untuk mendapatkan uang itu. Belum lama suaminya pergi, tiba-tiba anak yang menangis itu diam dalam gendongan ibunya. Ibu itu tersentak kaget. Kok tiba-tiba diam. Dilihatnya anaknya itu dengan seksama. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Segera ia memberanikan diri menerobos masuk ruang kerja dokter dan menanyakan apa yang terjadi.

Melihat ibu yang panik itu, dokter segera memeriksa si bayi yang berada dalam gendongan ibunya. Tiba-tiba dokter itu menoleh ke wajah ibu dan berkata, “bayi ini sudah meninggal.”

Bagai di sambar petir di siang bolong, ibu ini begitu terpukulnya. Ia segera berhambur keluar dan menangis  tersedu-sedu menunggu kedatangan suaminya yang sedang berusaha mencari uang  Rp. 20.000,- guna mengobati bayinya. Tak lama kemudian suami ibu itupun datang, “Bu, alhamdulillah aku sudah mendapatkan uang Rp. 20.000,- boleh pinjam sama tetangga kita.” Begitulah bapak itu berbicara dan langsung saja duduk di samping istrinya.

Namun ibu itu justru semakin keras suara tangisnya. Suaminya menjadi bingung karenanya. “Pak, anak kita sudah meninggal dunia.”

Betapa tersentaknya bapak itu. Ditatapnya dalam-dalam jabang bayi dan darah dagingnya yang begitu disayanginya. Wajahnya sudah pucat pasi. “Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.” Uang Rp. 20.000,- itupun dimasukkan kembali ke dalam saku bajunya.

Dengan langkah gontai kedua suami istri itu segera meninggalkan puskesmas itu. Suaminya dengan bergumam ia berkata, “Ya Alloh ampunilah bu bidan itu, berilah ia hidayah-Mu.” Beberapa pasang mata berkaca-kaca dan meneteskan air memandang sepasang suami istri yang sedang dilanda duka. Bu bidan yang melihat kejadian itu ikut menangis seakan merasa bersalah.

Semoga kisah ini menjadikan pelajaran bagi kita semua. Hendaknya kita menolong orang yang berada dalam kesusahan tanpa harus dahulu meributkan keuangan atau imbalan, terlebih kita tahu bahwa yang ditolong adalah orang miskin. Benar bahwa kematian adalah urusan Alloh, ia adalah taqdir-Nya. Akan tetapi jika kita sudah menolong seseorang yang berada dalam kesulitan maka kita sudah mendapatkan pahala dan kita tidak akan disalahkan oleh orang yang kita tolong, kita juga tidak disalahkan oleh Alloh SWT, bahkan kita akan mendapatkan pahala dari-Nya.

Nabi SAW bersabda: “Alloh akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu suka menolong saudaranya.”

Oleh: abuzahro | Agustus 7, 2008

SURAT UNTUK BU DOKTER

Istri saya memang sering sakit. Dia memang memiliki hipertensi dan beberapa keluhan penyakit lainnya. Karenanya istriku sering berobat yang secara otomastis sering berinteraksi dengan bidan ataupun dokter. Terkadang istriku berobat di rumah sakit, bahkan tak jarang ia dirawat inap. Terkadang berobat ke klinik 24 jam. Pun sering pula berobat ke puskesmas. Ya masalah berobat bukanlah hal yang aneh bagi keluargaku.

Dari sekian kali berobat dan sudah mengalami berobat di berbagai tempat, maka bermacam-macam pula pengalaman yang kami alami. Sikap bidan dan dokterpun bermacam-macam pula. Ada yang ramah, ada yang judes, ada lembut ada pula yang kasar. Suatu hari ketika istri saya berobat di puskesmas keliling (maklum kami memilih berobat di situ karena praktis, cepat dan biaya murah) maka giliran istri saya di panggil.  

“Nomor 70 !” demikian seru si asisten bu dokter yang duduk di sampingnya. Segera istriku beranjak dari tempat duduk antrian dan menghadap bu bidan. Tiba-tiba bu dokter dengan wajah yang dingin dan tatapan mata yang tidak bersahabat berkata: “Ibu ini kerjanya sakit melulu…! Apa gak pengin sehat. Makanya apa yang dianjurkan dokter. Dari catatan di sini, ibu lagi-lagi darah tinggi. Apa anjuran dokter tidak dihiraukan…? Coba sini lengannya.”

Aku yang duduk di tempat antrian memperhatikan bu dokter dan istriku sambil berdo’a. “Ya Alloh, sembuhkanlah istriku, jadikanlah penyakit penyakit ini sebagai penebus dosa-dosa kami, berilah kami kesabaran. Berilah hidayah-Mu buat bo dokter itu, ya Alloh. Dan ampunilah dosa-dosanya.”

Kemudian dengan sedikit kasar lengan istri sayapun ditariknya tidak dengan lembut, dan diperiksalah tensinya. Seolah-olah sudah biasa, iapun berkata kembali dengan suara ditekan, “Tuh kan, mas tensinya 180/110. Ini bisa bahaya, bisa strooke. Ibu mau strooke…!?” Istri tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala. Kulihat wajah istriku semacam kecewa.

Sejurus kemudian bu dokter itupun menuliskan resepnya. Setelah selesai kemudian menyerahkan kepada istriku “Nih ambil obatnya, minum yang teratur dan jauhi segala pantangan yang pernah saya kasih tahu sama ibu, kalau gak pengin sakit lagi…!!!”

Istriku pun ngeloyor menuju tempat pengambilan obat seraya menyerahkan uang recehan Rp. 2.000,- setelah itu kami pun pulang. Istriku dengan wajah yang kecewa sedikit menggerutu, “Mas bu dokter itu kok angkuh dan kasar sekali ya? Mungkin Mas baru tahu aku diperlakukan begini. Memang dokter yang jaga berganti-gantian Mas. Tapi setiap kali yang jaga bu dokter “itu” aku selalu tegang, karena sikapnya yang kasar. Tapi aku perhatikan bukan cuma aku, rupanya ibu-ibu yang lain juga mengeluh hal sama seperti aku.”

“Sudahlah, sabar saja. Mungkin ia tidak sadar. Mudah-mudahan dengan sabar dan penyakit yang kamu derita menjadi penyebab terhapusnya dosa-dosamu dan dosa-dosa kita. Sekarang kita do’akan saja, semoga bu dokter “itu” diampuni oleh Alloh dan diberi hidayah atau diberi pelajaran oleh Alloh yang sangat berharga bagi dia, agar dia tersadar dan segera mengakhiri sifat buruknya itu.” Sahutku sambil menyetir sepeda motor. “Aamiin…” Istriku meng-amin-kannya sambil membonceng di belakangku, ia menggendong anakku yang masih bayi. Kami melaju melalui lorong-lorong perkampungan di tengah kota Jakarta di tengah teriknya sinar mentari.

Dalam keheningan, sejurus kemudian istriku tiba-tiba berkata, “Tapi Mas, kalau bu dokter itu tidak ditegur dan diingatkan, maka ia mungkin akan tetap begitu terus. Kasihan kan ibu-ibu yang lain, bahkan juga kasihan juga bu dokter itu. Sudah capek-capek bekerja tapi gak dapat pahala.” Benar juga kata istriku, “Ya sudah, kamu berani gak menegurnya…?” Demikian pancingku.

Istriku terdiam. Kami terus melaju dengan sepeda motor kami pulang. Tiba-tiba kami sudah dekat dengan rumah kontrakan kami. Setelah duduk dan menyalakan kipas angin untuk mengeringkan keringat yang bercucuran, istriku angkat bicara, seolah-olah sifat bu dokter itu masih menyibukkan fikirannya. “Mas bagaimana kalau Mas menulis surat buat bu dokter itu, dengan niat karena Alloh ingin mengingatkan. Siapa tahu dengan surat Mas, bu dokter itu mendapat hidayah.”

“Aamiin. Boleh juga idemu. Baiklah insya Alloh segera aku tulis surat buat bu dokter itu. Nanti kalu kamu berobat lagi dan ketemu bu dokter itu serahkan ya ? Tapi waktu menyerahkannya senyum lho ! Jangan cemberut dan jangan dendam.” Begitu aku mengingatkan istriku. “Insya Alloh…” jawab istriku. Akupun mulai menulis surat yang diinginkan istriku.

Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh.

Bu dokter yang kami hormati. Kami para pasien yang sering berobat ke bu dokter sering merasa kecewa dan takut, karena sikap bu dokter yang kasar dan suka membentak-bentak. Kami sadar bahwa kami juga tidak ingin sakit. Sakit bukanlah hal yang kami inginkan. Kami pun sudah berusaha menjaga kesehatan. Tapi bukankah kita hanya bisa berusaha, tapi Alloh-lah yang menentukan. Bukankah sakit itu pemberian Alloh kepada hamba-Nya sebagai bukti Kasih Sayang-Nya. Karena Nabi SAW bersabda: “Siapa seorang hamba yang ditimpa penyakit kemudian ia bersabar dan berobat dengan cara yang benar, maka penyakitnya itu akan menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lalu.”

Bu dokter yang kami hormati. Namun walaupun kami tidak ingin sakit, tetap saja penyakit itu datang lagi. Saya pikir ini adalah yang terbaik menurut Alloh untuk saya. Bahkan saya juga berfikir, bahwa ini juga yang terbaik untuk dokter. Coba bu dokter renungi, jika tidak ada orang sakit, lalu bu dokter mau kerja apa? Apakah tanpa ada pasien bu dokter bisa beker untuk memperoleh nafkah (gaji)? Tidak hanya itu, dengan mengobati pasien dengan baik, ramah dan ikhlas, maka bu dokter akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Alloh. Ingat bu dokter, bahwa kerja bu dokter itu mengobati, bukan menyembuhkan. Dan untuk itu bu dokter digaji dan mendapatkan pahala jika kerja bu dokter baik menurut pandangan Alloh dan Rosul-Nya.

Apa bu dokter menginginkan semua manusia sembuh dan sehat tanpa penyakit? Apa bu dokter menginginkan para dokter, para bidan dan para perawat menjadi menganggur. Sudahlah bu, biarkan saja mereka sakit, asal jangan menyakiti orang. Dan kerjakanlah tugas dokter dengan sebaik-baiknya, tak perlu marah-marah dan kasar. Saya yakin jika bu dokter bekerja diawasi pimpinan bu dokter atau diawasi dari dinas kesehatan pemerintah atau menteri kesehatan, pasti bu dokter akan malu berkata kasar, dan bu dokter akan berusaha bersikap ramah dan santun.

Ingat bu dokter, walaupun tidak ada menteri kesehatan yang melihat kerja bu dokter, tapi Alloh yang jauh Lebih Besar dari Menteri Kesehatan, selalu Melihat dan Mengawasi bu dokter. Dan kelak semua catatan kerja bu dokter oleh Alloh akan diperlihatkan kepada ibu serta ibu akan dibalasi dengan seadil-adilnya.

Bu dokter yang terhormat, maafkan kami jika kami lancang mengingatkan dan menasehati bu dokter. Kami hanyalah orang awam yang bodoh. Tapi kami merasa berkewajiban mengingatkan bu dokter sebagai saudara sesama Muslim. Kami hanya ingat firman Alloh, “Demi masa, sesungguhnya manusia semuanya dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.” QS. Al Ashr: 1-3.

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh

Dari pasien yang setia berobat ke dokter. Dan dari hamba Alloh yang faqir.

Demikian surat itu aku tulis, hanya berniat karena Alloh, demi mematuhi perintah-Nya, dengan harapan kami mendapatkan ridho dan pahala dari-Nya. Tidak lebih dari itu. Aamiin.

Selanjutnya surat itu aku lipat dengan rapih dn aku masukkan ke dalam amplop. Di sampul amplop itu aku tulis “Kepada bu dokter yang kami hormati” dan di pojok surat aku tulis, “Dari pasien setiamu.”

Beberapa kali istriku berobat dengan membawa surat itu, Tapi beberapa kali juga belum bertemu. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Suatu hari istriku berobat, setelah nomor urutnya dipanggil, maka istriku segera menghampiri. “Ibu lagi ibu lagi…! Sakit apa lagi…?!” Bu dokter itu terus nyerocos sambil terus menggerutu, “Sakit kok gak ada bosan-bosannya.” Ia memasang wajah sinisnya kepada pasien sambil terus memeriksa istriku. Setelah selesai menyerahkan resepnya dan menyerahkan kepada istriku. Sejurus kemudian istriku mengambil amplop dari dalam tasnya. Kemudian menyerahkannya kepada bu dokter.

“Bu maaf ini amplop untuk bu dokter, semoga bermanfaat. Maaf ya bu jika kami selalu sakit. Dan terima kasih ya bu atas perawatan ibu selama ini kepada kami.” Istriku menyerahkan amplop itu sambil tersenyum. Tiba-tiba wajah bu dokter itupun berubah menjadi ramah, ia tersenyum pula sambil mengucapkan. “Apa ini? Oh ya, terima kasih ya…!?”

Setelah mengambil obat dan menyerahkan uang recehan Rp. 2.000,- kami pun ngeloyor pulang. Seraya hati kami berdo’a, “semoga bu dokter itu mendapat hidayah an ampunan Alloh. Dan kami mendapat pahala dan ridho-Nya, aamiin.

Oleh: abuzahro | Agustus 6, 2008

HIDUP ITU UNTUK IBADAH

06 Agustus 2008, Abu Zahro

Alloh SWT berfirman: “Dan AKU (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka hanya mengabdi kepada-Ku.” QS. 51:56

Betapa banyaknya manusia yang tidak mengerti bahwa dirinya itu diciptakan Alloh semata-mata hanya untuk mengabdi (beribadah) kepada Alloh saja. Artinya segala niat, ucapan dan perbuatannya itu hanyalah wujud pengejawantahan dan bukti ketaatan atau kepatuhan kepada Alloh semata. Sebagaimana bunyi ayat di atas. Sebagian manusia masih banyak yang mengabdi kepada nafsunya sendiri, dimana segala perbuatannya hanya untuk memuaskan dirinya (kepuasan duniawi / material) saja, tak peduli hal itu dimurkai Alloh, yang penting dirinya puas dan bahagia. Orang-orang yang demikian derajatnya tidak ubahnya laksana binatang ternak bahkan lebih hina lagi. (QS. 27:4 / 25: 43-44).

Dan untuk itu, bagi orang yang ikhlas mengabdikan dirinya kepada kepatuhan kepada Alloh semata, maka Alloh menjanjikan akan memberikan keberkahan hidupnya, jalan keluar dari kesulitannya, rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka, kecukupan dalam kebutuhannya, serta kemudahan dalam segala urusannya. (QS. 98:5 / 65: 2-4).

Pengabdian (ibadah) yang ikhlas kepada Alloh (dengan tidak menyekutukan Alloh kepada sesuatu) tidak akan bisa terjadi jika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya ada adalah karena diciptakan oleh Alloh. Juga tidak sadar bahwa dirinya adalah milik Alloh. Bahkan segala apa yang ada pada dirinyapun juga milik Alloh. (QS. 2:255, 284 / 4:131 / 6:12 / 39:44 / 57:2, 5 / 53:31, dll).

Dengan kesadaran tersebut, maka seseorang tidak akan menggunakan anggota badannya maupun harta (titipan Alloh) yang ada padanya digunakan seenaknya sendiri demi kepuasan nafsunya, akan tetapi ia akan menggunakan segala milik Alloh yang diamanahkan (dititipkan) kepadanya hanya sesuai dengan apa yang diridhoi Alloh, sesuai dengan aturan (syari’at) yang dibuat oleh Alloh. Ia takut mendapat murka Alloh jika memakai harta milik Alloh seenaknya dengan menantang aturan Alloh. Ia juga sadar bahwa hidupnya, segala gerak-geriknya selalu diawasi oleh Alloh, kemudian dicatat oleh-Nya serta kelak di akhirat akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban). QS. 4:1 / 9:111 / 61:10-13 / 89:14 / 24:52 / 21:49 / 33:39 / 36:11 / 70:27 / 67:12 / 9:18, dll.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seutama-utama iman (yaitu iman yang sempurna) adalah bahwa engkau tahu (sadar) sesungguhnya Alloh (selalu) bersamamu (mengawasimu) dimanapun engkau berada.”

Tulisan Sebelumnya »

Kategori