Istri saya memang sering sakit. Dia memang memiliki hipertensi dan beberapa keluhan penyakit lainnya. Karenanya istriku sering berobat yang secara otomastis sering berinteraksi dengan bidan ataupun dokter. Terkadang istriku berobat di rumah sakit, bahkan tak jarang ia dirawat inap. Terkadang berobat ke klinik 24 jam. Pun sering pula berobat ke puskesmas. Ya masalah berobat bukanlah hal yang aneh bagi keluargaku.
Dari sekian kali berobat dan sudah mengalami berobat di berbagai tempat, maka bermacam-macam pula pengalaman yang kami alami. Sikap bidan dan dokterpun bermacam-macam pula. Ada yang ramah, ada yang judes, ada lembut ada pula yang kasar. Suatu hari ketika istri saya berobat di puskesmas keliling (maklum kami memilih berobat di situ karena praktis, cepat dan biaya murah) maka giliran istri saya di panggil.
“Nomor 70 !” demikian seru si asisten bu dokter yang duduk di sampingnya. Segera istriku beranjak dari tempat duduk antrian dan menghadap bu bidan. Tiba-tiba bu dokter dengan wajah yang dingin dan tatapan mata yang tidak bersahabat berkata: “Ibu ini kerjanya sakit melulu…! Apa gak pengin sehat. Makanya apa yang dianjurkan dokter. Dari catatan di sini, ibu lagi-lagi darah tinggi. Apa anjuran dokter tidak dihiraukan…? Coba sini lengannya.”
Aku yang duduk di tempat antrian memperhatikan bu dokter dan istriku sambil berdo’a. “Ya Alloh, sembuhkanlah istriku, jadikanlah penyakit penyakit ini sebagai penebus dosa-dosa kami, berilah kami kesabaran. Berilah hidayah-Mu buat bo dokter itu, ya Alloh. Dan ampunilah dosa-dosanya.”
Kemudian dengan sedikit kasar lengan istri sayapun ditariknya tidak dengan lembut, dan diperiksalah tensinya. Seolah-olah sudah biasa, iapun berkata kembali dengan suara ditekan, “Tuh kan, mas tensinya 180/110. Ini bisa bahaya, bisa strooke. Ibu mau strooke…!?” Istri tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala. Kulihat wajah istriku semacam kecewa.
Sejurus kemudian bu dokter itupun menuliskan resepnya. Setelah selesai kemudian menyerahkan kepada istriku “Nih ambil obatnya, minum yang teratur dan jauhi segala pantangan yang pernah saya kasih tahu sama ibu, kalau gak pengin sakit lagi…!!!”
Istriku pun ngeloyor menuju tempat pengambilan obat seraya menyerahkan uang recehan Rp. 2.000,- setelah itu kami pun pulang. Istriku dengan wajah yang kecewa sedikit menggerutu, “Mas bu dokter itu kok angkuh dan kasar sekali ya? Mungkin Mas baru tahu aku diperlakukan begini. Memang dokter yang jaga berganti-gantian Mas. Tapi setiap kali yang jaga bu dokter “itu” aku selalu tegang, karena sikapnya yang kasar. Tapi aku perhatikan bukan cuma aku, rupanya ibu-ibu yang lain juga mengeluh hal sama seperti aku.”
“Sudahlah, sabar saja. Mungkin ia tidak sadar. Mudah-mudahan dengan sabar dan penyakit yang kamu derita menjadi penyebab terhapusnya dosa-dosamu dan dosa-dosa kita. Sekarang kita do’akan saja, semoga bu dokter “itu” diampuni oleh Alloh dan diberi hidayah atau diberi pelajaran oleh Alloh yang sangat berharga bagi dia, agar dia tersadar dan segera mengakhiri sifat buruknya itu.” Sahutku sambil menyetir sepeda motor. “Aamiin…” Istriku meng-amin-kannya sambil membonceng di belakangku, ia menggendong anakku yang masih bayi. Kami melaju melalui lorong-lorong perkampungan di tengah kota Jakarta di tengah teriknya sinar mentari.
Dalam keheningan, sejurus kemudian istriku tiba-tiba berkata, “Tapi Mas, kalau bu dokter itu tidak ditegur dan diingatkan, maka ia mungkin akan tetap begitu terus. Kasihan kan ibu-ibu yang lain, bahkan juga kasihan juga bu dokter itu. Sudah capek-capek bekerja tapi gak dapat pahala.” Benar juga kata istriku, “Ya sudah, kamu berani gak menegurnya…?” Demikian pancingku.
Istriku terdiam. Kami terus melaju dengan sepeda motor kami pulang. Tiba-tiba kami sudah dekat dengan rumah kontrakan kami. Setelah duduk dan menyalakan kipas angin untuk mengeringkan keringat yang bercucuran, istriku angkat bicara, seolah-olah sifat bu dokter itu masih menyibukkan fikirannya. “Mas bagaimana kalau Mas menulis surat buat bu dokter itu, dengan niat karena Alloh ingin mengingatkan. Siapa tahu dengan surat Mas, bu dokter itu mendapat hidayah.”
“Aamiin. Boleh juga idemu. Baiklah insya Alloh segera aku tulis surat buat bu dokter itu. Nanti kalu kamu berobat lagi dan ketemu bu dokter itu serahkan ya ? Tapi waktu menyerahkannya senyum lho ! Jangan cemberut dan jangan dendam.” Begitu aku mengingatkan istriku. “Insya Alloh…” jawab istriku. Akupun mulai menulis surat yang diinginkan istriku.
Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh.
Bu dokter yang kami hormati. Kami para pasien yang sering berobat ke bu dokter sering merasa kecewa dan takut, karena sikap bu dokter yang kasar dan suka membentak-bentak. Kami sadar bahwa kami juga tidak ingin sakit. Sakit bukanlah hal yang kami inginkan. Kami pun sudah berusaha menjaga kesehatan. Tapi bukankah kita hanya bisa berusaha, tapi Alloh-lah yang menentukan. Bukankah sakit itu pemberian Alloh kepada hamba-Nya sebagai bukti Kasih Sayang-Nya. Karena Nabi SAW bersabda: “Siapa seorang hamba yang ditimpa penyakit kemudian ia bersabar dan berobat dengan cara yang benar, maka penyakitnya itu akan menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lalu.”
Bu dokter yang kami hormati. Namun walaupun kami tidak ingin sakit, tetap saja penyakit itu datang lagi. Saya pikir ini adalah yang terbaik menurut Alloh untuk saya. Bahkan saya juga berfikir, bahwa ini juga yang terbaik untuk dokter. Coba bu dokter renungi, jika tidak ada orang sakit, lalu bu dokter mau kerja apa? Apakah tanpa ada pasien bu dokter bisa beker untuk memperoleh nafkah (gaji)? Tidak hanya itu, dengan mengobati pasien dengan baik, ramah dan ikhlas, maka bu dokter akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Alloh. Ingat bu dokter, bahwa kerja bu dokter itu mengobati, bukan menyembuhkan. Dan untuk itu bu dokter digaji dan mendapatkan pahala jika kerja bu dokter baik menurut pandangan Alloh dan Rosul-Nya.
Apa bu dokter menginginkan semua manusia sembuh dan sehat tanpa penyakit? Apa bu dokter menginginkan para dokter, para bidan dan para perawat menjadi menganggur. Sudahlah bu, biarkan saja mereka sakit, asal jangan menyakiti orang. Dan kerjakanlah tugas dokter dengan sebaik-baiknya, tak perlu marah-marah dan kasar. Saya yakin jika bu dokter bekerja diawasi pimpinan bu dokter atau diawasi dari dinas kesehatan pemerintah atau menteri kesehatan, pasti bu dokter akan malu berkata kasar, dan bu dokter akan berusaha bersikap ramah dan santun.
Ingat bu dokter, walaupun tidak ada menteri kesehatan yang melihat kerja bu dokter, tapi Alloh yang jauh Lebih Besar dari Menteri Kesehatan, selalu Melihat dan Mengawasi bu dokter. Dan kelak semua catatan kerja bu dokter oleh Alloh akan diperlihatkan kepada ibu serta ibu akan dibalasi dengan seadil-adilnya.
Bu dokter yang terhormat, maafkan kami jika kami lancang mengingatkan dan menasehati bu dokter. Kami hanyalah orang awam yang bodoh. Tapi kami merasa berkewajiban mengingatkan bu dokter sebagai saudara sesama Muslim. Kami hanya ingat firman Alloh, “Demi masa, sesungguhnya manusia semuanya dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran.” QS. Al Ashr: 1-3.
Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh
Dari pasien yang setia berobat ke dokter. Dan dari hamba Alloh yang faqir.
Demikian surat itu aku tulis, hanya berniat karena Alloh, demi mematuhi perintah-Nya, dengan harapan kami mendapatkan ridho dan pahala dari-Nya. Tidak lebih dari itu. Aamiin.
Selanjutnya surat itu aku lipat dengan rapih dn aku masukkan ke dalam amplop. Di sampul amplop itu aku tulis “Kepada bu dokter yang kami hormati” dan di pojok surat aku tulis, “Dari pasien setiamu.”
Beberapa kali istriku berobat dengan membawa surat itu, Tapi beberapa kali juga belum bertemu. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Suatu hari istriku berobat, setelah nomor urutnya dipanggil, maka istriku segera menghampiri. “Ibu lagi ibu lagi…! Sakit apa lagi…?!” Bu dokter itu terus nyerocos sambil terus menggerutu, “Sakit kok gak ada bosan-bosannya.” Ia memasang wajah sinisnya kepada pasien sambil terus memeriksa istriku. Setelah selesai menyerahkan resepnya dan menyerahkan kepada istriku. Sejurus kemudian istriku mengambil amplop dari dalam tasnya. Kemudian menyerahkannya kepada bu dokter.
“Bu maaf ini amplop untuk bu dokter, semoga bermanfaat. Maaf ya bu jika kami selalu sakit. Dan terima kasih ya bu atas perawatan ibu selama ini kepada kami.” Istriku menyerahkan amplop itu sambil tersenyum. Tiba-tiba wajah bu dokter itupun berubah menjadi ramah, ia tersenyum pula sambil mengucapkan. “Apa ini? Oh ya, terima kasih ya…!?”
Setelah mengambil obat dan menyerahkan uang recehan Rp. 2.000,- kami pun ngeloyor pulang. Seraya hati kami berdo’a, “semoga bu dokter itu mendapat hidayah an ampunan Alloh. Dan kami mendapat pahala dan ridho-Nya, aamiin.