MAJLIS TA’LIM DAN MAJLIS DZIKIR NURUL HIDAYAH
=============================================
Kantor pusat:
Jl. Daan Mogot KM 11, Tanggul Klingkit, RT 009/011, No 62, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat 11740
Rek BCA No: 756.00.1515.6 – Rek BNI No: 0186.991.587
Telp. 08128065109 / 085781194111
E-mail: abuzahro48@yahoo.com
Web: www.abuzahro.wordpress.com
Majlis Ta’lim dan Majlis Dzikir Nurul Hidayah, saat ini sedang merintis (membangun) Panti Asuhan Anak Yatim, Serta Pendidikan dan Pondok Pesantren bagi Anak Yatim dan Kaum Dhuafa di Desa Guno, RT 001/003, Kec. Jatiroto, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah dengan luas tanah saat ini baru ada 1.110 M2.
RENCANA PEMBANGUNAN PANTI ASUHAN ANAK YATIM DAN PONDOK PESANTREN KAUM DHUAFA DI WONOGIRI
KEHIDUPAN BERAGAMA DI WONOGIRI
Hari itu Kamis 8 September 2011, Kami (saya, istri dan anak) datang ke Desa Guno, Kec. Jatiroto, Kab. Wonogiri, Jateng untuk memenuhi unda ngan Ibu Karni yang bekerjasama dengan Panitia dan Pengurus Masjid Al Amin serta masyarakat dan aparat desa untuk mengisi ceramah acara Halal bi Halal.
Ibu Karni kini sudah tidak bersuami dan sudah memiliki satu cucu. Beliau pensiunan karyawati pabrik ABC Intercallin Batterey di Jakarta. Masjid Al Amin di bangun di atas tanah wakaf dari ibu Karni, beralamat di Desa Guno, RT 001/003, Kec. Jatiroto, Kab. Wonogiri, Jawa Tengah dengan luas lebih kurang 500 meter persegi.
Menurut panitia dan aparat desa, acara pengajian akbar itu baru yang pertama kali diselenggarakan, terlebih mengundang penceramah dari Jakarta. Maklum di desa Guno dalam kehidupan beragama masih begitu awam. Betapa tidak, pada malam (Jum’at) itu sebelum kami mengisi ceramah, kami menyempatkan diri sholat Maghrib di masjid itu. Ternyata ma’mumnya hanya 2 orang. Kami kaget, karena bacaan Al Qur’an si imam berantakan, masih sangat jauh dari standar kebenaran ilmu tajwid. Kami jadi sedih. Begitu juga dengan sholat Isya-nya hanya 5 orang, itu juga karena mereka hendak menghadiri pengajian akbar.
Saat acara Halal bi Halal, kami disambut oleh masyarakat dengan sangat antusiasnya, yang hadir begitu meriah, dihadiri sekitar 500-an orang. Betapa tidak meriah, karena keadaan desa Guno adalah di perkampung an daerah pegunungan yang sepi. Antara rumah penduduk yang satu dengan yang lain saling berjauhan. Belum lagi acara itu katanya sangat mendadak tanpa persiapan karena kurang dari seminggu, dan tidak menyebarkan undangan, kecuali hanya lisan untuk beberapa wilayah RT sekitar saja. Apa lagi kebetulan hari itu juga banyak warganya yang sedang mengadakan acara hajatan.
Selesai acara, mereka menyampaikan harapannya agar suatu saat nanti kami berkenan untuk dapat hadir kembali jika diundang. Karena sudah malam, kami pun pulang untuk beristirahat. Malam itu kami beserta keluarga beristirahat di rumah ibu Karni.
KEJADIAN YANG MENYEDIHKAN
Sebelum waktu Shubuh kami sudah bangun untuk bersiap-siap ke masjid. Saat tiba waktu Shubuh, kami mendengar sayup-sayup suara adzan di kejauhan. Kami tunggu-tunggu ternyata di masjid Al Amin yang lokasinya tidak jauh dari tempat kami istirahat tidak terdengar kuman-dang adzan. Akhirnya kami ke masjid. Benar saja marbot masjid yang semalam menjadi imam sholat Maghrib dan panitia acara, ternyata masih tidur mendengkur di sebuah ruangan di sudut masjid.
Akhirnya kami mengaktifkan amplifier dan speaker, kemudian menguman dangkan adzan. Setelah sholat sunnah qobliyah (sunnah fajar), kami bersholawat (puji-pujian) pakai speaker sambil menunggu kehadiran jama’ah, dan kami berharap semoga puji-pujian kami juga dapat mem bangunkan marbotnya. Ternyata setelah sekian lama, marbot masjid tidak juga bangun, masih asyik dengan dengkurnya, begitupun dengan masyarakat, tidak ada yang datang. Maka kami pun putuskan untuk iqomat. Dan ….. kami sholat Shubuh sendirian. Selesai sholat, kami berdzikir panjang sampai berdo’a. Hingga kami hendak pulang, tidak ada juga seorangpun yang hadir ke masjid. Sedih, menangis dan menjerit batin ini, bercampur aduk jadi satu.
Lebih menyedihkan lagi adalah kejadian di siang harinya, saat pelaksanaan sholat jum’at. Pada saat mu’adzdzin mengumandangkan adzan, kami bertanya kepada orang yang semalam menjadi imam sholat maghrib yang duduk di sebelah kami. “Siapa nanti yang menjadi khotib?” Tanpa basa-basi untuk menawarkan kepada kami, dengan tegas dia menjawab, “Saya khotibnya !”
Seusai adzan diapun naik mimbar untuk berkhutbah. Dia membaca buku khut bah jum’at. Masya Alloh… semua bacaan rukun khutbahnya, bacaan dalilnya rusak semua. Kami hanya diam tertunduk seraya menjerit dalam batin tidak berani menghentikan khutbah yang sedang berlangsung. Maklum, disitu kami adalah tamu. Dalam hati, kami ber’azam, nanti selesai sholat jum’at, kami akan mengulang dengan sholat zhuhur.
Kami melirik kepada mu’adzdzin yang duduk berada di sebelah kami, kami lihat dia tertunduk sambil menggeleng-gelengkan kepala setiap kali khotib membaca ayat Al Qur’an atau Hadits Nabi SAW. Selesai khutbah kedua, sang mu’adzdzinpun berdiri, kami pikir akan mengumandangkan iqomat, ternyata tidak. Beliau tiba-tiba menyampaikan himbauan dengan suara terbata-bata dan bola mata yang berkaca-kaca sepertinya berat hendak mengucapkan kata-kata. Dengan suara tertahan dan gemetar beliau menyampaikan, “Para hadirin dan jama’ah sekalian yang terhor mat, sebelumnya kami mohon maaf, khususnya kepada tamu kita dari Jakarta. Demi kemaslahatan bersama, mengingat khutbah tadi belum sempurna, maka dengan segala kerendahan hati kami mohon kesediaan Bpk Ustadz Teguh untuk naik mimbar dan menyampaikan khutbah kem bali agar pelaksanaan sholat jum’at kita menjadi sempurna.”
Kami-pun menengok ke kanan dan ke kiri. Seluruh jama’ah memberi isyarat dan mempersilakan kami untuk naik mimbar. Karena merasa men dapat persetujuan dan restu dari jama’ah, maka kami pun naik mimbar untuk mengulang khutbah jum’at siang itu (9 September 2011).
Selesai khutbah, dan mu’adzdzin mengumandangkan iqomah, kami pun dipersilakan untuk mengimami sholat jum’at. Setelah berdo’a dan bersa lam-salaman, kami kembali ke rumah ibu Karni. Ternyata ada dua orang yang mengikuti kami dan mampir ke rumah ibu Karni untuk sharing. Ternyata beliau berdua itu pengurus musholla yang sudah berdiri se belum dibangun masjid Al Amin. Dan beliau-beliau itu pernah merantau serta mengikuti pengajian di tempat perantauannya, sehingga bisa me nilai bacaan khotib tadi.
Mereka berkata, “Pak Ustadz, sebenarnya si FULAN itu dulu juga pernah diturunkan dari mimbar khutbah, karena memang bacaannya rusak. Dan yang membuat kami sedih dan malu adalah, mengapa dia tidak menawarkan pak Ustadz untuk menjadi khotib. Padahal semalam selesai acara tabligh akbar, kami sudah menyampaikan kepada seluruh panitia termasuk si FULAN tersebut agar besok yang mengisi khutbah jum’at adalah pak Ustadz Teguh, mumpung masih ada di desa kami. Semalam semuanya sudah setuju. Tapi mengapa dia tidak konsisten, kok tiba-tiba naik. Astaghfirulloohal ‘azhiim. Maafkan kami ya pak Ustadz…”
“Sudahlah, tak apa… dengan kejadian ini kan kami jadi tahu seperti apa kualitas dia, sehingga mudah-mudahan kejadian ini menjadi pelajaran bagi dia dan bagi kita semua. Alhamdulillah bapak tadi cepat ambil sikap untuk menyelamatkan sahnya pelaksanaan sholat jum’at. Nah dengan kejadian ini, cepatlah segera diantisipasi untuk bermusyawarah dengan pengurus masjid agar mencari imam, khotib sekaligus ustadz untuk mengajar di masjid Al Amin. Dan si Fulan maupun kita semua dihimbau agar belajar lagi, supaya bacaan Qur’annya bagus. Sayang-kan itu mas jid, sudah dibangun bagus-bagus, tapi isinya kosong.”
“Yaa Alloh pak Ustadz, di masjid itu tidak ada pengurusnya. Adapun yang menjadi imam itu bukanlah seorang ustadz, hanya kebetulan rumahnya dekat dengan masjid. Dan di desa ini, tidak ada ustadznya, terus kami mau belajar dimana? Semoga suatu saat nanti bapak berkenan hadir kembali di desa kami.” Seusai mereka berpamitan, maka tergurat di hati kami kesedihan yang amat dalam. Kami pun merenung…..
PERMOHONAN SEBAGAI ISYARAT AMANAT ALLOH
Kami jadi ingat waktu ibu Karni mulai belajar mengaji pada kami di Jakarta (th. 1987). Saat itu ibu Karni belum mengenal huruf Hijaiyyah sama sekali. Beliau belajar dari nol, mulai dari “a – ba – ta”. Dengan tekun dan sabar ibu Karni belajar hingga akhirnya ibu Karni dapat mem baca kitab suci Al Qur’an dengan lancar dan fasih, serta hafal beberapa do’a, kemudian rajin mengerjakan sholat yang 5 waktu bahkan tahajjud dan akhirnya beliau memutuskan untuk istiqomah menggunakan busana muslimah (jilbab).
Kami juga ingat, waktu sebelum krismon terjadi, ibu Karni pernah me ngadukan hal keadaan di kampung halamannya yang masih sangat awam dalam soal agama. Kebanyakan warganya tidak sholat, tidak bisa membaca Al Qur’an dan masih banyak yang mempercayai klenik, mitos, takhayul dan perdukunan. Kemudian dengan tetesan air mata ibu Karni pernah memohon kepada kami agar sudilah kiranya mau mengajar me ngaji di desa beliau. Waktu itu kami hanya tersenyum. Karena memang saat itu di samping kami masih bujangan, masih sibuk menimba ilmu, juga masih belum kebayang (blank)….
Puncaknya setelah ibu Karni pensiun (Mei 2011), beliau ikut berangkat Umroh bersama kami, istri kami dan jama’ah dari Travel Heppy Prima pada Juli 2011. Lalu beliau bernadzar ingin mengundang kami ke Wono giri untuk mengisi ceramah umum setelah lebaran (1432 H). Setelah Umroh beliau memutuskan hendak pulang kampung dan hidup di desa bersama orang tuanya serta menjaga cucunya.
Saat umroh, di hadapan Ka’bah kami berdo’a memohon kepada Alloh agar diberikan kemudahan atau pertolongan serta kesabaran dan ke ikhlasan dalam mengemban da’wah islam ini, begitu juga kami mohon agar niat kami untuk dapat mendirikan pondok pesantren dapat dikabul kan oleh Alloh.
Akhirnya apa yang menjadi niat dan cita-cita kami maupun bu Karni mulai terlihat. Jalannya adalah kami dapat hadir ke Wonogiri untuk mengisi pengajian umum atas undangan ibu Karni.
Benar saja, setelah kami menyaksikan sendiri, dalam kehidupan beraga ma di desa ibu Karni, benar-benar nol. Setelah kami tanyakan ke pengu rus masjid maupun aparat desa, ternyata di sana tidak ada ustadz yang mengajar agama (mengaji). Penduduknya rata-rata merantau ke kota untuk bekerja. Pada ke sempatan itu bu Karni menanyakan kembali kepada kami, beliau bertanya melalui istri kami, “Bagaimana mbak Nur, mau gak tinggal di sini untuk mengajar ngaji di desa kami yang masih awam agama, bahkan mereka masih mempercayai dukun dan takhayul.”
Waktu itu kami belum bisa menjawab. Akhirnya setelah kami sampai di Jakarta, kami pun membicarakannya dengan istri. Serasa hati ini tertan tang dan terbakar oleh semangat untuk berda’wah (mensyi’arkan) islam di pedesaan yang masih awam. Semangat dan niat kami tumbuh dengan kuatnya. Hingga akhirnya kami bersama istri berniat untuk membangun Majlis Ta’lim dan Majlis Dzikir di dekat masjid Al Amin. Setelah kami sampaikan maksud kami kepada ibu Karni, betapa beliau sangat senang mendengarnya. Maka beliau pun menyetujuinya, bahkan beliau meng-HIBAH-kan tanahnya kepada kami dan istri kami seluas 1.110 meter persegi untuk dibangun Majlis Ta’lim dan Majlis Dzikir.
Saat ini kami sedang berusaha mengumpulkan dana dari para kaum aghniya, dermawan serta simpatisan untuk membangun kegiatan terse but. Insya Alloh setelah berjalan 4 – 5 tahun, kami akan melanjutkan dengan pembangunan madrasah dan pondok pesantren modern.
Mengingat saat ini kami sibuk dengan berbagai kegiatan ta’lim dan berbagai tugas di Jakarta, maka rencananya, setelah ada dana, kami hendak memulai pembangunan untuk gedung Majlis Ta’lim. Selanjutnya istri yang akan tinggal di Wonogiri untuk mengajar pengajian anak-anak dan ibu-ibu. Sementara itu kami tetap tinggal di Jakarta. Sebulan, sekali kami akan pulang ke Wonogiri selama seminggu untuk mengajar penga jian bapak-bapak. Demikian sampai berjalan 4 hingga 5 tahun, sehingga pembangunan terus berjalan sampai berdiri madrasah dan pondok pesantren.
PERJUANGAN TIDAK AKAN SEPI DARI UJIAN
Kami sadar bahwa tiada jalan yang tak berlubang, begitupun dengan perjalanan hidup dan perjuangan, tidak akan pernah sepi dari ujian dan cobaan. Dalam proses merintis dan mendirikan pondok pesantren pun tidaklah begitu saja berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Apalagi memulai dari nol di tempat yang masih sangat awam. Namun jika kita ikhlas berjuang demi memperoleh ridho Alloh, dan kita siap menjalaninya dengan sabar dalam menghadapi segala ujian, maka kami yakin Alloh akan menolong kami.
Ujian itu bisa berupa cacian, celaan, fitnahan, kecurigaan, tuduhan negatif, atau buruk sangka, yang semua itu akan datang dari orang-orang yang iri dan dengki. Orang seperti itu adalah karena memperturutkan hawa nafsunya atau bisa karena bisikan setan dan antek-anteknya. Semua ujian seperti itu pernah dialami oleh seluruh Nabi dan Rosul Alloh, sebagai pelajaran buat kita.
Begitu juga dengan para ‘ulama yang merintis dan mendirikan pondok pesantren, mereka semua pernah mengalami ujian. Intinya untuk meraih kesuksesan dalam beramal sholeh maka harus melalui proses yang panjang, tidak ada pesantren yang langsung berdiri dengan mulusnya dalam waktu setahun atau dua tahun. Begitulah yang pernah dialami oleh guru-guru kami, para ‘ulama dan kyai.
Kami akan memulainya dengan membangun majlis ta’lim dan majlis dzikir terlebih dahulu. Membina masyarakat sekitar dulu agar mereka bisa membaca Al Qur’an, bisa sholat, senang ke masjid, senang melaku kan berbagai kegiatan bakti sosial yang tentunya semua itu harus kami contohkan lebih dahulu.
Setelah anak kami lulus dari pondok pesantren dan menjadi sarjana (insya Alloh 5 tahun lagi), maka pondok pesantren akan dikelola dan dipimpin oleh anak kami. Sedangkan kami masih terus menjalankan tugas seperti sediakala di Jakarta, sehingga kami dapat mengembang kan pembangunan pondok pesantren di tempat lain sebagai cabang. Insya Alloh cabangnya nanti akan dikelola oleh anak kami yang kedua yang insya Alloh akan lulus sarjana dari pesantren 2 tahun kemudian setelah kakaknya.
PONDOK PESANTREN DAN PROFIL PENDIRINYA
Seperti kami sebutkan sebelumnya, pada awalnya kami akan merintis majlis ta’lim dan majlis dzikir, yang kami beri nama NURUL HIDAYAH, dengan harapan menjadi cahaya hidayah yang mampu menerangi hati dan memberi petunjuk bagi warga sekitar yang masih awam agama. Kemudian pelan-pelan kami akan membangun madrasah dan pondok pesantren. Kami juga berencana menampung beberapa anak yatim dan kaum dhuafa untuk mendapatkan pendidikan secara gratis.
Kami akan menyelenggarakan pendidikan dengan kajian ilmu-ilmu salaf, maupun ilmu-ilmu modern, atau pendidikan ilmu agama yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan umum, serta berbagai pendidikan ketrampilan wirausaha, sehingga diharapkan setelah santri lulus akan memiliki iman yang kuat, sholeh, benar dalam ber’ibadah, sekaligus dapat berwirausa ha, tanpa bersusah payah mencari kerja, kalau bisa mampu menciptakan lapangan kerja (walau pun jika mereka mau bekerja pada pihak lain tidaklah dilarang).
Perangkat yang kami gunakan adalah sebagaimana pondok pesantren modern yang lain. Baik dari kitab-kitab kuningnya, buku-buku umum, peralatan pertanian, perkebunan, peternakan, perbengkelan otomotif, peralatan elek tronik, seperti komputer, LCD proyektor, infocus, dll.
Perintis dan pendirinya adalah kami beserta istri dan ibu Karni. Istri kami bersama ibu Karni akan memulai dengan mengajar anak-anak dan ibu-ibu yaitu belajar membaca Al Qur’an dan menghafal bacaan sholat serta do’a sehari-hari, serta dasar-dasar fiqih ‘ibadah, beberapa prinsip aqidah dan akhlaq. Adapun kami bertindak sebagai pengasuh dan pembina untuk mendirikan, mengurus legalitas, mengajar, dan memimpin madra sah serta pondok pesantren.
Nama lengkap kami TEGUH WIBOWO, S.Pd.I. Lahir di Brebes pada 7 Oktober 1966. Menempuh pendidikan dari SD hingga SMA Negeri di Brebes untuk pagi harinya, sedangkan sore harinya kami belajar di Madrasah Diniyyah, malam harinya kami mengaji kepada para ‘ulama / kyai di Brebes. Setamat dari SMA Negeri II Brebes (1985) –waktu itu namanya SMPP– kami merantau ke Jakarta. Di Jakarta kami mengaji kepada para ‘ulama dan kyai Betawi. Setelah mendapat penilaian dari guru tentang bacaan Al Qur’annya, kami diminta oleh guru kami Bpk Ust. H. Rahmatullah HS, untuk membantu mengajar anak-anak di pengajian serta mengajar di Madrasah Diniyyah dan Ibtidaiyyah Al Hasaniyyah Kapuk. Juga mengajar di Madrasah Diniyyah Darul Falah Kedaung, yang beliau pimpin. Semua berlokasi di Kec. Cengkareng.
Permintaan untuk mengajar private serta mengajar mengaji di beberapa tempat mulai berdatangan. Sampai akhirnya kami sering diminta mengisi khutbah Jum’at, ceramah khitanan, ceramah peringatan Hari Besar Islam, atau ceramah umum pada acara paguyuban dan arisan. Kami juga merintis untuk membentuk majlis ta’lim Al Hidayah, bagi para karyawan untuk belajar membaca Al Qur’an, tajwid, fiqih, aqidah dan akhlaq ber tempat di kediaman paman kami, bapak Haji Darsim (Ibu Hajjah Mudiha) yang beralamat di Kampung Kedaung, Kel. Kedaung Kaliangke, Kec. Cengkareng, Jakarta Barat. Di antara jama’ah itu adalah ibu Karni dan ibu yang sekarang menjadi istri kami sendiri. Majlis ta’lim ini hingga sekarang masih berjalan.
Setelah kami menikah, permintaan mengisi acara ceramah umum se makin banyak, bahkan sampai keluar kota dan keluar pulau Jawa. Akhirnya kami memutuskan untuk belajar lagi, yaitu Kuliah Da’wah (D1) pada tahun 1991 di Ittihadul Muballighin, juga memperdalam bahasa Arab dan kaligrafi Islam dengan mengikuti kursus. Masih belum puas, kami mengambil Kuliah Da’wah (D1) lagi di PKM KODI DKI pada tahun 1997. Karena semakin banyak permintaan ceramah, kami juga memu tuskan untuk kuliah S1, kami mengambil Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam) di Institut Agama Islam Al Aqidah, waktu itu rektornya adalah Bpk KH. Irfan Zidny, MA. Kami lulus dan wisuda pada tahun 2003.
Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, penataran dan dialog kami ikuti, dari yang regional sampai yang nasional. Kami juga tetap aktif menimba ilmu pada para ‘ulama di Jakarta, seperti : KH. Muh. Zein – Taman Kota, KH. A. Syatiri, KH. Syarifuddin, MA. KH. Alwi – Basmol, KH. Drs. Hasan Subandi – Kapuk, Ust. H. Rahmatullah, HS. – Kedaung, KH. Mahfudz Asirun, S.Ag. – Duri Kosambi, KH. Abdulloh Noor, MA. – Pluit, KH. Bunyamin – Kelapa Dua, KH. Drs. Soffar Mawardi – Srengseng, dll. Juga mengikuti pengajiannya KH. DR. Ma’ruf Amin, KH. Drs. Muh. Hidayat, MBA, KH. DR. Syafi’i Antonio. Hingga saat ini kami masih aktif mengikuti kajian kitab salaf (kitab kuning) pada beberapa ‘ulama di Jakarta.
Kami juga belajar qiro’at kepada Ust. Sobri – Rawa Buaya dan Ust. Yusuf Syamsuri – Pesing. Bahkan sempat ikut bergabung dengan IPQOH (Ikatan Persaudaraan Qori-qori’ah dan Hafizh-hafizhoh) Jakarta Barat. Selanjutnya kami mengikuti kursus Bahasa Arab di LPBA Al Hikmah – Bangka, dilanjutkan lagi di LBIQ DKI Jakarta – Tanah Abang. Kami juga aktif mengikuti berbagai pengajian umum di beberapa pondok pesantren di Jakarta, seperti As Shiddiqiyyah, As Syafi’iyyah, At Tahiriyyah, Al Wasilah, serta aktif mengikuti berbagai gelar tabligh akbar bersama para kyai seperti KH. Manarul Hidayat, KH. Zainuddin MZ, KH. Sumarno Syafi’i, KH. Habib Syeikh Al Jufri, KH. Syukron Ma’mun, dll.
Adapun di antara kitab-kitab yang kami pelajari adalah : Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, Tafsir Khozin, Tafsir Ayatul Ahkam, Tafsir Ibnu Katsir, Shohih Bukhori, Tanwirul Hawalik (Al Muwaththo Imam Malik), Mau ’izhotul Mu’minin, Mawa hibus Shomad, Riyadul Badi’ah, Sabilul Muh tadin, Targhib wat Tarhib, Irsya dul ‘Ibad ila Sabilir Rosyad, Ihya ‘Ulu middin, Al Bidayah wan Nihayah, Riya dus Sholhin, Syarah Arba’in An Nawawi, Al Hikam, serta buku-buku agama islam berbahasa Indonesia atau yang terjemahan yang dikarang oleh Syeikh Nawawi Al Bantani – KH. Prof. Ali Mustofa Ya’qub, MA – KH. Bey Arifin – KH. Sirojuddin Abbas – Syeikh Sayyid Sabiq – Syeikh DR. Yusuf Qordhowi – KH. Drs. Ahmad Dimyathi Badruzzaman, MA – Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki – KH. Muhyiddin Abdusshomad – Syeikh Isma’il Al Anshori, dan masih banyak yang lain.
Insya Alloh kami akan tetap menuntut ilmu sampai akhir hayat kepada para ‘ulama (ahlinya) serta banyak membaca kitab dan buku yang dikarang oleh para ‘ulama yang sholeh agar iman dan ilmu kami tetap terjaga dan terus meningkat, sehingga ‘ibadah kami kepada Alloh SWT semakin berkualitas, menjadi hamba yang sholeh (taqwa) dan bisa mengajar ummat (berda’wah) dengan baik dan benar.
TOLONG-MENOLONG DALAM KEBAJIKAN DAN TAQWA
Kami sadar bahwa dalam mengemban amanat da’wah ilalloh ini tidaklah mungkin dapat berjalan sendirian. Bukankah Nabi SAW dalam me ngemban da’wah juga dibantu dari berbagai kalangan, dari kalangan sepuh adalah Abu Bakar RA, kalangan muda adalah Imam Ali RA, kalangan aghniya adalah Utsman bin Affan RA, kalangan jawara adalah Umar bin Khottob RA, dan dari kalangan kaum wanita (ibu) adalah Khodijah RA.
Begitupun kami, tentu tidak akan bisa berjalan jika da’wah islam ini kami pikul sendirian, kami membutuhkan bantuan orang lain (saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa) dari berbagai pihak. Untuk itu bagi yang ingin bersama kami dalam rangka mencari ridho Alloh, rahmat, ampunan serta surga Nya, mari bersama kami berjuang mambangun pengajian, dzikir, madrasah dan pondok pesantren di daerah yang terbelakang dalam urusan agama.
Kami bersama para asatidz akan mendermakan ilmu dan tenaganya, sedang kan Ibu Karni telah mendermakan tanahnya melalui wakaf seluas 1.610 meter persegi. Di atasnya telah dibangun masjid Al Amin seluas kira-kira 500 meter persegi dan sisanya diwakafkan kepada kami untuk dibangun gedung majlis ta’lim. Ini pada awalnya, insya Alloh setelah berjalan, kami akan memperluas area dengan membebaskan beberapa ratus bahkan ribu meter tanah di sekitarnya untuk dibangun madrasah dan pondok pesantren.
Bagi para kaum Muslimin/at serta yang ingin mendermakan sebagian rizqinya (titipan Alloh) untuk ditabungkan dan didepositokan di akhirat, untuk dibangun istana di surga dan kelak akan dirasakan manfaatnya di surga nanti, silakan salurkan dananya untuk kami bangunkan gedung pengajian bagi masyarakat, bagi kaum dhuafa (miskin), dan bagi anak yatim. Rencananya untuk anak yatim miskin tersebut akan kami gratis kan. Percayalah, gedung majlis ta’lim dan pondok pesantren tersebut akan berubah menjadi istana di surga nanti dan diberikan untuk para penyumbangnya. Salurkanlah bantuan saudara ke :
- BCA, Rek No : 756.00.1515.6 *)
- BNI, Rek No : 0186.991.587 *)
- BRI, Rek No : 332.101.001.201.503 *)
- Mandiri, Rek No : 118.000.688.692.2 *)
- Muamalat, Rek No : 012.940.2442 *)
*) Semua atas nama Bpk TEGUH WIBOWO, S.Pd.I.
Dana bantuan dapat ditransfer kapanpun dan berapapun. Insya Alloh dengan menjaga amanah Alloh akan kami gunakan sebagai pem bangunan gedung Majlis Ta’lim, Majlis Dzikir dan Pondok Pesantren. Jika ingin menyerahkan langsung kepada kami atau kami jemput, silakan hubungi kami di :
Jl. Daan Mogot KM 11, Tanggul Klingkit, RT 009/011, No 62, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat 11740
Telp 08128065109 / 085781194111
Kami mohon do’a dan bantuan dari pembaca sekalian semoga niat yang baik dan suci ini dapat terlaksana serta memperoleh ridho Alloh SWT. Jika Anda tidak dapat membantu dengan dana dan tenaga, maka bantulah kami dengan do’a, minimal bacakan surat Al Fatihah untuk niat dan tujuan yang mulia ini. Do’a Anda pun akan dibalas Alloh dengan ganjaran yang lebih baik. Terima kasih.
Komentar Terakhir